Kali ini gue dateng lagi mewartakan cerita seru tentang topik yang
gak akan jauh-jauh dari Sejarah. Bisa dibilang mungkin hampir semua dari
pembaca artikel blog ini adalah para pelajar Indonesia yang sejak kecil
belajar pelajaran sejarah sampe berbusa-busa tentang jatuh-bangunnya
kekuasaan politik maupun ekonomi di daerah geografis yang sekarang ini
kita namakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sedemikian panjang
rentang sejarah Indonesia yang lo pelajari, pastinya gak asing dengan
satu tema besar yang biasanya diberi istilah "Masa Penjajahan Eropa di
Indonesia" dong?
"Masa Penjajahan Eropa di Indonesia" yang kemungkinan besar selama
ini lo denger adalah sebuah masa yang dilukiskan ketika Indonesia
mengalami kekejaman panjang karena Indonesia dijajah oleh bangsa-bangsa
Eropa, diambil kekayaan alamnya, diperbudak, didiskriminasi
habis-habisan, dirampas hak-nya, dlsb. Tapi betulkah seperti itu? Apakah
bener Indonesia itu dijajah sama Belanda 350 tahun? Apakah emang betul
bangsa-bangsa Eropa itu dateng buat menjajah tanah air kita yang kaya
dengan sumber daya alam?
Okay, pada artikel zeniusBLOG kali ini, gua mau kita kupas tuntas
tentang buanyaak pandangan-pandangan keliru seputar sejarah kependudukan
Eropa di wilayan Nusantara, yang sampai sekarang ini masih dipercaya
secara umum di Indonesia. Pandangan-pandangan keliru tentang sejarah
kependudukan bangsa Eropa di Indonesia ini, entah kenapa terus dipercaya
dari generasi ke generasi, disebutkan oleh orangtua, guru, pelajaran
sekolah. Sehingga gak heran kalau kekeliruan ini bahkan masih dipercaya
oleh mereka-mereka yang ngakunya sebagai kaum terpelajar.
Nah, sebagai para intelektual muda yang terpelajar dan juga
pemirsa setia zeniusBLOG, gua kepingin mengajak lo untuk bareng-bareng
mengevaluasi setiap informasi yang kita dapatkan (kali ini terkait
Sejarah bangsa kita sendiri lho!) berlandaskan data dari berbagai macam
sumber. Karena pada dasarnya, ilmu apapun yang lo pelajari, jangan
pernah ditelen mentah-mentah dari buku pegangan pemerintah maupun dari
omongan guru lo, tapi harus selalu juga lo tengok dari perspektif lain.
So, dalam artikel ini gua mau ngebahas beberapa
miskonsepsi/salah-kaprah/kekeliruan umum tentang sejarah kependudukan
bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Yuk langsung aja kita masuk ke bahasan
seru zeniusBLOG kali ini:
Salah Kaprah#1: Indonesia dijajah oleh Portugis
Nah, mungkin kebanyakan dari lo selama ini meyakini bahwa Portugis
adalah bangsa Eropa pertama yang dateng dan menjajah Indonesia. Nah,
dalam konteks ini, pertama-tama gua mau menekankan pada istilah
“dijajah”, dan juga “Indonesia” sebagai sebuah identitas politik.
Pertama-tama,gue mau nekenin bahwa sebelum Indonesia menyatakan
kemerdekaannya 17 Agustus tahun 1945, yang namanya “Indonesia” itu belum
ada men!
Terus ngapain juga coba Bangsa Portugis main jauh-jauh sampai ke kawasan kepulauan Asia Timur dan Asia Tenggara?
The nutmeg plant is native to Indonesia's Banda Islands. Once one of
the world's most valuable commodities, it drew the first European
colonial powers to Indonesia.
Nah sekarang kalo kita mau telaah apakah betul Portugis itu
"menjajah" wilayah Nusantara ini, kita perlu tau alesan sebetulnya
kenapa bangsa Portugis ini kok bisa nyasar sampai ke Kepulauan Asia
Tenggara? Emang niatnya buat ngejajah atau gimana?
Jadi gini cerita awal mulanya, jauh sebelum Bangsa Eropa melakukan
penjelajahan ke wilayah Asia, mereka udah bisa menikmati kekayaan alam
dari wilayah Asia, terutama rempah-rempah dari para pedagang Arab di wilayah Eropa Selatan. Dalam
kebudayaan Eropa, rempah-rempah dari Timur yang selama ini dihadirkan
oleh para pedagang Arab itu udah sangat melekat jadi kebutuhan bangsa
Eropa sebagai perpaduan jenis obat, pengawet makanan, bumbu masakan, dan
juga simbol status sosial. Rempah-rempah jadi simbol status sosial? Iya
beneran! Makanan pesta yang kaya rasa akan rempah-rempah dari Timur
(yang harganya selangit itu) jadi salah satu indikator gengsi dan status
sosial kaum ningrat Eropa.
Walaupun Bangsa Eropa udah menikmati kekayaan alam dari wilayah Asia,
mereka belum pernah tau secara persis sumber asalnya dari mana, mereka
juga gak pernah ambil pusing untuk pergi jauh-jauh dateng ke kawasan
tersebut karena jalur distribusi perdagangan jalan darat ke Eropa udah
oke dengan "perpanjangan tangan" dari India sampai ke Arab. Jadi
pengetahuan Bangsa Eropa tentang asal-usul rempah-rempah itu bisa
dibilang cuma samar-samar. Mereka hanya tau rempah-rempah itu berasal
dari kawasan kepulauan yang sangat jauh di wilayah Timur, tempat yang
begitu asing bagi mereka, begitu misterius dan rahasia.
Nah, situasi ekonomi dan jalur perdagangan rempah-rempah ke Eropa
yang aman dan nyaman selama ini berubah total gara-gara jalur dagang
darat ditutup oleh Kekhalifahan Utsmani, yang pada 29 Mei 1453 berhasil ngerebut kota Konstantinopel (Istanbul-Turki)
yang emang jadi pintu masuk para pedagang dari timur buat jual tuh
macem-macem rempah. Rempong dooong jadinya! Karena kebutuhan
rempah-rempah di Eropa tetap tinggi dan persediaanya makin menipis,
akhirnya Portugis dan Spanyol memutuskan untuk cari jalan lain ke sumber
rempah, yaitu melalui ekspedisi jalur laut.
Sisa reruntuhan benteng Portugis A Famosa di Malaka (wilayah Malaysia)
Sejak saat itulah Portugis menjadi salah satu pemain baru dalam
perekonomian dan perdagangan kawasan Timur Nusantara sampai akhirnya
tahun 1575 Portugis mutusin buat ninggalin monopoli di Nusantara ke
daerah Tiongkok dan Jepang karena wilayah Nusantara ini dinilai ga
strategis, kegedean, dan terlalu banyak persaingan dari pedangang lokal
maupun pedagang internasional.
Udah deh gitu doang pengaruh Portugis yang sempet mampir "sebentar"
ke wilayah kepulauan Asia Tenggara. Secara geografis, Portugis hanya
pernah menguasai jalur perdagangan Malaka dan Pulau Timor bagian
timur (yang notabene secara politis terletak di luar wilayah Negara
Indonesia). Hal paling signifikan yang dilakukan oleh Portugis hanyalah
ikut bermain dalam tatanan perdagangan Nusantara yang sebelumnya bebas
menjadi dimonopoli oleh pihak Eropa, serta penyebaran agama Katolik di
bagian timur wilayah Nusantara. Jadi kalo gua balik lagi ke pertanyaan:
apakah tepat kalo kita sebut Portugis pernah menjajah Indonesia? Coba lo
simpulkan dan evaluasi lagi berdasarkan berbagai sumber yah
Salah Kaprah #2: Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun
Oke, mungkin lo udah seriiing banget denger istilah " Dulu kita
dijajah sama Belanda selama 350 tahun! Terus setelah merdeka kita
dijajah sama bangsa sendiri". Nah sekarang balik lagi nih ke pertanyaan
semula, emang bener yah Belanda ngejajah Indonesia selama tiga setengah
abad? Belum lagi kata "menjajah" itu sendiri identik dengan kekejaman,
kerja paksa, perbudakan, dlsb. Apakah betul emang dulu Indonesia
mengalami penderitaan selama itu? Yuk kita bahas dulu!
Konferensi Meja Bundar Den Haag: August 23 - November 2, 1949
Pertama-tama, kita telusuri dulu kapan sih ada orang Belanda nongol
pertama kali di kepulauan ini? Oke, dari sumber sejarah yang selama ini
kita ketahuin kan namanya si Cornelis de Houtman
tuh, yang pertama kali nyampe ke Banten pada tanggal 27 Juni 1596. Kalo
aja penjajahan Belanda dianggep berakhir pas tahun 1949, pas
ditandatanganinnya Konferensi Meja Bundar,
berarti emang bener orang Belanda udah menjejakkan kaki di Indonesia
selama 353 tahun. Tapi bisa dibilang tepat ga tuh? Seperti yang elo
semua ketahuin, de Houtman dateng ke Kepulauan Nusantara sebagai penjelajah, bukan penjajah. Bahkan Perusahaan Perserikatan Hindia Timur atau Vereeningde Oost-Indische Compagnie
(VOC) aja belom didiriin pas dia berlabuh di Banten untuk pertama kali.
Jadinya moment pas pertama kali de Houtman dateng ke wilayan Nusantara
itu ga tepat dong kalo dibilang “ngejajah”.
Terus klo diambil dari tahun berdirinya VOC gimana? VOC didiriin
sejak 1602, enam tahun setelah ekspedisi de Houtman berhasil membukakan
jalan bagi penjelajah Belanda untuk melakukan aktivitas perdagangan di
Kepulauan Nusantara. Kalo kita itung sampe KMB, 1949, berarti total 347
tahun. Yaah hampir lah. Eitttss tapi jangan sampe lo lupa nih, VOC itu beda dengan Negeri Belanda.
VOC tuh bukan negara men, tapi cuma nama satu perusahaan doang. Kerjaan
VOC itu bukannya nguasain daerah, tapi nguasain perdagangan regional di
Hindia Timur. Ibaratnya kalau jaman sekarang industri otomotif kita
dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Jepang seperti Toyota, Honda,
Suzuki, Yamaha, dll, itu bukan berarti negara kita dijajah sama Jepang
kan?
Walaupun VOC dibekali hak yg kita kenal sebagai “Hak Oktroi” atau hak
istimewa yang ngebolehin mereka bikin benteng, punya tentara, berhak
berdiplomasi, dsb, tetep aja mereka intinya sebuah perusahaan yang punya
dewan komisaris (Heeren Zeventien) dan direktur utama
(Gubernur Jenderal), bukanlah mewakili sebuah negara Belanda. Jadi dalam
konteks “Indonesia dijajah 350 tahun sama Belanda”, pendirian VOC juga
bukanlah momentum yang tepat, karena sekali lagi VOC itu cuma satu
perusahaan dagang doang, bukanlah negara Belanda.
Dalam konteks "menguasai" bisa dibilang VOC ga punya wilayah di Kepulauan Nusantara, selain Batavia dibangun sama Jan Pieterszoon Coen dari reruntuhan bandar Jayakarta.
Secara garis besar peran VOC dalam wilayan Nusantara ini hanyalah hak
monopoli dagang, yang bikin mereka dianggap sebagai “penguasa” lokal.
Tapi kalau dalam konteks "menguasai" teritori politik, raja-raja lokal
di Nusantara masih punya kekuasaan penuh sama daerahnya. Daaaan, yang
paling penting, daerah operasi VOC tuh ga seluas wilayah NKRI sekarang
lho. Cuma terbatas di Batavia sebagai markas, Banten sebagai salah satu
pelabuhan utama, Ambon-Banda sebagai daerah penghasil cengkeh dan pala,
Makassar dan sekitarnya untuk mengamankan jalur pengiriman rempah, dan
Priangan (Jawa Barat), sebagai tempat penanaman tanaman secara massal (Preanger stelsel).
Selain itu? Sebagian besar wilayah yang sekarang ini bernama Indonesia,
masih dikuasain raja masing-masing (Sultan Aceh, Sultan Mataram, Sultan
Gowa, Sultan Palembang, Sultan Banjar, dan Raja-raja Bali).
Okay, jadi apakah Negara Belanda sebetulnya gak pernah menjajah
Indonesia? Apakah justru jangan-jangan selama ini Indonesia malah
dijajah cuma sama satu perusahaan bernama VOC doang?
Terus jadinya kapan sih bener-bener dijajah sama Negeri Belanda?
Seperti yang kita ketahuin bersama, VOC akhirnya dibubarin tahun 1799
oleh pemerintahan Republik Batavia (nama Negeri Belanda pas itu), dan
diambil alih langsung sama pemerintahan republik sejak 1800. Sejak 1800
itulah nama daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan VOC diganti
jadi Nederlands Indie atau Dutch East Indies (dalam Bahasa Indonesia
disebut Hindia Belanda). Dan ini pun ga serta-merta menjajah seluruh
Indonesia yah. Dengan serangkaian perang dari tahun 1800 sampe tahun
1914, barulah Belanda bisa nguasain hampir seluruh daerah Indonesia
sekarang (kecuali bagian dalam Kalimantan, dan pedalaman Papua Barat). Jadi
yaa, yang bener itu Negara Belanda ngejajah Indonesia cuma dari 1914 -
1949, dengan masa istirahat karena penguasaan Jepang sejak 1942 - 1945.
Daan, totalnya berarti cuma 1949 - 1914 - 3 = 32 tahun!
Terus gimana ceritanya tuh muncul istilah dijajah sama Belanda selama 350 tahun?
Selidik punya selidik, pandangan ini nih bermula ketika Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge yang dulu jadi pimpinan di Hindia Belanda sejak 1931 berpidato di depan masyarakat Batavia sambil nyebutin: “Nederlanders zijn hier al 300 jaar geweest en we zullen nóg minstens 300 jaar blijven”,
yang artinya kira2: “Belanda udah ada di sini sejak 300 taun yang lalu,
dan tetep bakal ada di mari 300 taun ke depan!”. Udah tentu doong, klo
diliat dari tahun pas dia mimpin, pidato ini sengaja ditujuin buat bikin
jiper para tokoh-tokoh pergerakan nasional yang lagi
semangat-semangatnya menggalang kekuatan rakyat nusantara. Hehehe. Jadi
sekarang masih mau percaya omongan Gubernur Jenderal de Jonge atau fakta
sejarah?
Salah Kaprah #3: Siasat divide et Impera sering digunakan buat memecah belah Rakyat Indonesia
Buat lo yang gak tau divide et impera, itu bukan nama mantra sihir dalam Harry Potter yah. Divide et Impera itu
sebuah taktik politis "adu domba" untuk memecah belah sebuah wilayah
besar, hingga akhirnya terpecah jadi beberapa bagian kecil, untuk
kemudian lebih mudah dikuasai. Nah, dalam konteks ini banyak orang yang
masih berpikir bahwa para "penjajah dari Eropa" ini, dengan liciknya
menggunakan taktik divide et impera untuk memecah belah rakyat Indonesia.
Nah, sekarang pertanyaan gua adalah : Rakyat Indonesia yang mana yang
dimaksud? Tapi kenapa istilah “divide et impera” ini bener-bener santer
banget yah didengungin sejak kita kecil? Dalam konteks ini, gua gak
sepakat dengan pernyataan bahwa siasat ini sering digunakan untuk
memecah belah rakyat Indonesia. Alesannya ya simpel, lagi-lagi ya karena
pas jaman segitu emang belum ada rakyat Indonesia yang bersatu!
Boro-boro kenal istilah Indonesia, ngerasa sebagai satu kesatuan aja ga
ada. Kita yang lahir setelah kondisi politik di Indonesia dan dunia ini
relatif stabil emang biasanya susah untuk mandang bahwa seratus tahun
yang lalu itu, kondisi geopolitis di dunia ini ga kaya sekarang gini.
Apalagi 300 tahun lalu dong, pas VOC mulai menancapkan pengaruh
perdagangannya di Kepulauan Nusantara. Mana ada yang disebut “persatuan
Indonesia”.
Pertanyaannya sekarang, apakah waktu Kesultanan Banten sedang perang
dengan Kesultanan Palembang di akhir abad 16 dan awal abad 17, VOC
melakukan divide et impera? Ya nggak, kedua kerajaan itu emang kepisah
kok. Apanya yang pecah-belah? apanya yang diadu-domba? Pas Kaum Adat dan
Kaum Paderi saling perang, apakah Belanda melakukan divide et impera?
Ya nggak, kedua kaum itu emang kepecah sebelum Belanda ngelakuin
intervensi demi mengamankan aset-asetnya di Sumatera Barat. Ketika Bone
ingin melepaskan diri dari “penjajahan” Kesultanan Gowa, apakah Belanda
melakukan siasat divide et impera? Lagi-lagi nggak, karena emang dua
entitas kerajaan itu emang selalu berseteru. Alih-alih ngelakuin divide
et impera, VOC dan Hindia Belanda lebih bersifat sebagai katalis dalam
semua konflik yang ada di Kepulauan Nusantara waktu itu. Keberpihakan
Belanda sangat menentukan pihak mana yang akhirnya menang perang.
Tapi apakah Belanda ga pernah sama sekali melakukan siasat divide et
impera selama berkuasa di Nusantara? Nah, khusus hal ini, emang pernah
kejadian beberapa kali. Tapi untuk jangka waktu kependudukan ratusan
tahun, siasat ini bisa dibilang jarang banget dipakai, yaitu cuman tiga
kali:
Sewaktu ngebelah Kesultanan Mataram jadi 4
bagian, Kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Surakarta, Puri Mangkunegaran,
dan Puri Pakualaman, pada perjanjian Giyanti, 13 Pebruari 1755. Walaupun
ini juga ga bisa dibilang Belanda yang punya niat. Para
pangeran-pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwana I) dan Sambernyawa
(Sri Mangkunegara I) emang awalnya ngeberontak sama Sunan Pakubuwana III
sebagai raja Mataram yang sah, dan Sambernyawa ga pernah dilibatin sama
proses penyusunan Perjanjian Giyanti.
Sewaktu Snouck Hurgronje memetakan pola sosiologis masyarakat Aceh,
yang sangat berguna buat memecah belah masyarakat Aceh dan
ujung-ujungnya menangin perang Aceh yang mana Belanda ga menang-menang
dan udah rugi banyak secara finansial.
Sewaktu pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan Undang-undang Indische Staatsregeling
(ISR) pada tahun 1926. Pasal 163 dalam undang-undang tersebut nyebutin
bahwa warga Hindia Belanda dibagi jadi tiga golongan, yaitu 1) golongan
Eropa dan Jepang, 2) golongan Timur Asing, serta 3) golongan Bumiputera.
Oke, jadinya sekarang ngerti dong yah, bahwa ga setiap tindak-tanduk
VOC dan Hindia Belanda selama di Nusantara ini bersifat divide et
impera. Buat lebih jelasnya lagi, mungkin bisa lo telusurin
artikel-artikel menarik tentang divide et impera (atau divide and rule)
di berbagai sumber.
Salah Kaprah #4: Penjajah dari Eropa selalu menyengsarakan masyarakat Indonesia.
Jika kita bicara tentang kependudukan bangsa Eropa di daerah
kepulauan Nusantara ini, kemungkinan yang terbersit di kepala lo adalah
hal-hal negatif yang dialami "bangsa Indonesia" pra-kemerdekaan.
Katakanlah, sepotong cerita tentang kediktatoran Herman Willem Daendels,
seorang gubernur jendral Hindia Belanda tahun 1808-1811 yang seringkali
dicitrakan sebagai manifestasi dari kekejaman. Mulai dari kerja rodi
lah, pembangunan jalan raya Daendels yang ngabisin ribuan nyawa lah,
sampe sistem pengadilan kelilingnya yang ga pandang bulu main
hukum-hukum aja orang-orang pribumi yang bersalah. Tapi masalahnya,
apakah jika kepemerintahan Daendels yang sewenang-wenang ini seolah-olah
merefleksikan hubungan dari kependudukan Bangsa Eropa di wilayah
Nusantara selama ratusan tahun? Sementara di sisi lain, kita mengenal Sir Thomas Stanford Raffles yang seringkali
dielu-elukan karena karyanya dalam membangun Kebun Raya Bogor, nemuin
Candi Borobudur, nemuin bunga Rafflesia Arnoldi, pengubahan sistem pengelolaan tanah (landrente) yang lebih nguntungin kaum pribumi yang punya tanah, dsb.
Penemuan dan pembangunan kembali Candi Borobudur
Dalam konteks ini, sebetulnya gua pengin lo semua melihat jaman
kependudukan bangsa Eropa di wilayah kepulauan Nusantara dari sisi yang
lain, bukan serta-merta kulit luar yang dengan gampangnya men-cap
keterlibatan Bangsa Eropa dalam sejarah Indonesia pra-kemerdekaan
sebagai "bangsa penjajah, kumpeni, diktator, pengeruk kekayaan negeri,
penyengsara rakyat, dan semacamnya". Sebaliknya, ada banyak banget
warisan dari bangsa Eropa, baik Belanda maupun Inggris yang manfaatnya
masih terasa sampai sekarang ini. Yang bahkan bisa dibilang, peran serta
mereka selama ratusan tahun, berkontribusi banyak dalam membangun
karakter dan tatanan fundamental dari Bangsa Indonesia.
Contohnya dari mulai hal yang paling sederhana, yaitu pembangunan
secara fisik deh, seperti infrastruktur sipil, rumah, jembatan, kanal.
Jalan Raya Daendels, rel kereta sepanjang Pulau Jawa, Sumetera,
Sulawesi, dll. Pendidikan K12 (12 tahun ajaran) yang hampir semua lo
alami sendiri dari SD - SMP - SMA yang merupakan adaptasi dari HIS -
MULO - AMS yang relatif bebas untuk semua kalangan (tanpa batasan sistem
kasta seperti yg dialami India yang dijajah Inggris). Belum lagi dari
segi hukum, mungkin selama ini lo gak sadar kalo kita mewarisi sistem
peradilan dan kodeks Kitab Hukum Undang-Undang Pidana (KUHP) juga dari
Belanda. Dari tatanan administrasi politik, kita juga berhutang-budi
pada Belanda mempercayakan para bangsawan untuk jadi pemimpin residen,
yang akhirnya kita kenal sekarang dengan istilah Kabupaten.
Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan) masa pemerintahan H.W Daendels
Terakhir adalah hal yang paling penting dari semuanya adalah: rasa
kebersatuan kita sebagai satu wilayah geografis yang akhirnya bernama
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalo bukan karena hubungan
dagang, ekonomi, serta tatanan sosial yang dikembangkan oleh
bangsa-bangsa Eropa selama ratusan tahun, bisa jadi Negara bernama
Indonesia tidak pernah terbentuk. Atau mungkin wilayah
geografis kepulauan dari Sabang sampai Merauke yang kita sekarang kita
kenal bernama Indonesia ini malah terbentuk menjadi beberapa negara
sendiri-sendiri, bisa-bisa yang muncul tuh Kesultanan Aceh Darussalam,
Kesultanan Jawa Mataram, Republik Banten, Republik Demokratik Borneo,
Republik Rakyat Tapanuli, dll. Nah lho, apa lo pernah kepikiran hal itu
sebelumnya? Jadi kalo kita kembali pada pernyataan bahwa "Bangsa Eropa menjajah Indonesia dan menyengsarakan rakyat Indonesia selama ratusan tahun" itu
terlalu cetek banget yah. Pengalaman para leluhur kita dengan bangsa
Eropa selama ratusan tahun sangatlah dinamis dan juga kompleks,
rasa-rasanya naif sekali kalau kita menyimpulkan fakta sejarah hanya
dari satu atau dua sisi saja. Makanya kita perlu terus mengkaji serta
mengevaluasi pemahaman kita akan segala sesuatu, termasuk juga tentang
sejarah negara kita sendiri.
Btw sebelum masuk ke topik bahasan, gue mau tanya dulu nih, diantara
lo (terutama yang cewek) ada yang hobi koleksi aksesoris ga? Atau
mungkin ada yang dari kecil udah "diwarisin" perhiasan (kalung atau
gelang gitu deh) oleh ortunya yang biasanya berupa logam mulia
seperti emas atau perak. Yup, emas dan perak itu dikategorikan sebagai
logam-logam mulia yang dianggap sebagai barang berharga, bahkan gak
jarang yang menjadikan itu sebagai bentuk investasi yang bisa dijual
dengan harga lebih mahal di masa depan. Nah sekarang, lo pernah
kepikiran gak sih kalo emas/perak itu kan cuma sepotong material senyawa
kimia padat ya, sama seperti besi, aluminium, tembaga, timbal, seng,
dll, tapi kok bisa sih emas/perak dihargai lebih mahal daripada materi yang lain?
Emang apa istimewanya sih emas, perak? kok harganya bisa sampai
muahal sedangkan bentuk senyawa padat lain harganya lebih murah? Padahal
emas ga bisa dimakan juga, gak efisien itu dipake sebagai bahan
bangunan, kurang begitu esensial buat kehidupan sehari-hari, masa cuma
gara-gara buat hiasan doang karena warnanya bagus dan mengkilat. Terus
kok tiba-tiba bisa sih semua orang di seluruh dunia kompak bikin harga
logam atau mineral tertentu bisa lebih mahal daripada yang lain?
Eit... tapi sebelum gua jawab pertanyaan itu, mau gak mau kita harus
mulai dulu dari pertanyaan dari nilai kebehargaan barang itu dilihat
dari apa, yang dalam hal ini indikatornya adalah uang. Dari uang sebagai
nilai tukar, kita juga harus paham konsep ekonomi dan sejarah seru.
Okay, di Zenius Blog kali ini gue akan bahas hal-hal di atas sekaligus share
cerita tentang peran emas dan perak sebagai salah satu bentuk nilai
tukar (mata uang) yang pertama di dunia. Okay, langsung aja yuk kita
mulai ceritanya.
Sejarah Uang Emas/Perak dan Inflasi
Pernah gak sih lo kepikiran dari sebuah ungkapan "in the end, money is only a paper".
Secara materialis, uang yang kita kenal sekarang itu emang sebetulnya
cuma sekedar kertas yang ada gambarnya terus dikasih nilai bahwa kalo
yang gambarnya anu nilainya sekian, gambarnya lain nilainya lain lagi.
Tapi kertas-kertas ini bisa jadi mewakili bentuk transaksi nilai,
barang, dan jasa. Bayangin aja, lo ngasih kertas bergambar dapet satu
mangkok bakso yang enak. Lo ngasih kertas bergambar tertentu dapet
gadget keren, tapi kalo lo gambar sendiri kertasnya, paling lo ditabok
atau masuk penjara karena dianggap bikin uang palsu, hehe..
Berarti dalam konteks ini kita mengenal beberapa fungsi uang yang
kita pegang sehari-hari, yaitu sebagai alat tukar, alat pengukur nilai,
dan alat simpan nilai. Sampai abad ke-18, sebagian besar uang yang
beredar di dunia berbentuk komoditas, berupa koin emas dan perak. Waktu
itu, belum ada tuh mesin cetak kertas yang bisa mencetak kertas dengan
gambar tertentu dengan seragam dan tersebar luas secara geografis. Ya
mau gak mau harus pake mesin cetak yah, masa uang mau digambar satu per
satu? Berarti nanti semua orang bakal bikin uangnya sendiri-sendiri
dong. Maka dari itu, emas dan perak-lah yang memiliki peran penyimpan
nilai. Sehingga setiap pertukaran transaksi barang dan jasa, diukur
dengan sejumlah emas atau perak.
Tetapi bukan berarti nilai setiap barang penyimpan nilai itu stabil
lho, pasti lo pernah denger kan kalo "harga emas lagi naik/turun nih".
Nah, lo tau gak itu kenapa alasannya dibalik hal itu? Dalam barang
pembentuk uang (dalam hal ini emas/perak), berlaku hukum pasar yang
disebut juga hukum penawaran dan permintaan. Buat yang udah lupa hukum
penawaran dan permintaan, bisa coba ditengok dulu video penjelasannya di zenius.net biar inget lagi.
Nah, hukum permintaan dan penawaran ini pun berlaku untuk barang
pembentuk uang, alias emas dan perak. Setiap kali ada emas atau perak
yang masuk ke suatu ekonomi (misalnya melalui penemuan tambang emas atau
perak baru) nilai emas atau perak tersebut akan berkurang. Kenapa?
Karena muncul supply baru yang beredar di pasar,
tapi pertumbuhan produksi jumlah barang dan jasa kurang cenderung stabil
segitu-segitu aja. Keadaan ini menyebabkan nilai uang menurun, dan berdampak terjadinya inflasi.
Ada dua contoh terkenal dalam sejarah mengenai inflasi, gini nih cerita sejarahnya...
Cerita 1: Musa I - Mansa Mali
Contoh yang pertama adalah cerita Musa I, "Mansa" (gelar raja) Mali.
Doi menguasai kekaisaran Mali di Afrika Barat dari tahun 1312-1337.
Mali memiliki tiga tambang emas yang besar. Hukum Mali waktu itu
melarang perdagangan dengan emas. Semua emas adalah milik Mansa dan
dapat ditukar dengan uang komoditas lain yang digunakan di Mali, yaitu
garam dan tembaga. Karena hukum ini, para Mansa yang memerintah punya
emas yang banyak banget. Kejadian ini adalah satu-satunya dalam sejarah
di mana nilai emas di wilayah Laut Tengah dikendalikan hanya oleh satu
orang.
Nah, sebagai seorang Muslim yang taat, Mansa Musa pergi naik haji
pada tahun 1324. Total rombongannya mencapai 70,000 orang, membawa
banyak harta termasuk hampir 20 ton emas. Sepanjang jalan, Musa
menyumbang emas kepada orang miskin di kota-kota besar yang dia lewati,
termasuk Kairo, Mekkah, dan Madinah. Selain itu, dia juga membeli banyak
suvenir dengan harga yang lebih tinggi dari seharusnya (mungkin agak
ditipu pedagang setempat hehehe). Bahkan, konon dia membayar orang untuk
membangun masjid baru di tempat manapun yang dia lewati setiap hari
Jumat! Karena begitu banyaknya emas Afrika yang mengalir ke pasar
kota-kota tersebut, semua orang jadi punya banyak emas.
Secara semua orang tiba-tiba "kaya" dan berlimpah emas. Jadinya nilai
emas gak begitu berharga (soalnya semua orang jadi punya emas). Hal ini
mengakibatkan nilai tukar emas menurun drastis dan bahkan tidak kembali
ke tingkat yang sama sampai seenggaknya satu dekade. Akibatnya, harga
barang-barang melangit, daya beli masyarakat menurun, dan sektor ekonomi
rill jadi terhambat. Kacaulah kondisi ekonomi di jazirah timur tengah
dan sebagian Afrika pada masa itu.
Nah, jadi sekarang lo paham yah, bahwa hukum ekonomi itu terjadi
dalam ruang lingkup masyarakat di jaman kapanpun selama manusia punya
kebutuhan dan saling berinteraksi untuk memenuhi itu. Coba sekarang lo
bayangin kalo misalnya tiba-tiba semua orang di Indonesia punya uang
yang banyak, itu bukan berarti semua orang langsung jadi sejahtera yah.
Malah sebaliknya, kalo semua orang dibagi-bagiin uang dalam jumlah
banyak, sementara sektor produksi riil tetap, bisa-bisa kacau balau
perekonomian negara kita.
Cerita 2: Spain Colonial Exploitation
Contoh yang kedua adalah eksploitasi emas dan perak Amerika Latin yang mengubah ekonomi dunia.
Di tengah abad ke-16, penakluk Spanyol "mengambil" (baca: merampok)
emas dalam jumlah masif dari bangsa Inca dan juga menemukan tambang
perak yang menggunung di Potosi, Peru. Walaupun nilai perak sekarang
jauh lebih rendah dari emas, pada jaman itu perak masih banyak dicari
terutama di Timur Tengah dan Timur Jauh (China), dan harganya bisa dua
kali lipat harga perak di Eropa. Karena itu, tambang perak itu
dieksploitasi secara massal selama satu abad berikutnya. Akibatnya, koin
perak Spanyol jadi mata uang internasional dan banyak beredar di Eropa.
Naah... gara2 eksploitasi besar-besaran itu, Eropa kebanjiran perak
dari Amerika latin dan mengalami inflasi yang cukup tinggi karena uang
tiba-tiba jadi berlimpah sementara produktivitasnya kurang-lebih ya
segitu-segitu aja. Sementara itu, di China, perak (uang) yang mengalir
ke sana nggak dateng begitu cepatnya (ya kali China kan jauh bro!)
sehingga ekonomi mereka tumbuh dengan lebih stabil.
Kalo lo penasaran, nama koin Spanyol ini real de a ocho atau disebut juga peso de ocho, asal usul kata nama mata uang peso. Dalam bahasa Inggris, peso de ocho artinya "piece of eight"
karena nilai satu koin tersebut adalah 8 real (mata uang Spanyol
sebenarnya). Oiya, lo mungkin pernah lihat koin Spanyol yang jadi mata
uang internasional itu, menggantung di bandana-nya kapten Jack Sparrow.
Koin itu adalah "piece of eight" kesembilan di cerita Pirates of the Caribbean.
PS. peristiwa ini juga yang mendasari era awal bajak laut. itu karena
hasil eksploitasi tambang dari amerika selatan (dan barang dagangan)
harus didistribusi ke daratan Eropa melalui perairan Atlantik (yang
salah satunya adalah perairan Karibia).
Lha, terus kenapa Emas dan Perak Dibuat dan Dipakai Jadi Uang dari Jaman Dulu?
Okay sekarang lo udah paham tentang fungsi nilai mata uang dan
sedikit penjelasan tentang pengaruhnya dalam ekonomi. Nah sekarang kita
balik haluan dari ekonomi dan sejarah ke ilmu Kimia. Kita balik lagi ke
pertanyaan kenapa logam berharga, harganya relatif lebih tinggi dari
unsur-unsur lain di muka bumi ini. Yang paling terkenal adalah tiga
logam yang biasanya dibuat menjadi koin sejak jaman dulu, yaitu emas,
perak, dan tembaga. Eh kok tembaga, bukannya perunggu ya? Perunggu itu
sebenarnya campuran dan bukan logam murni, berbahan dasar tembaga (~90%)
ditambah timah (~10%). Campuran perunggu ini sifatnya lebih keras dan
tahan banting daripada tembaga murni sehingga selain bisa dibuat menjadi
koin yang tahan lama, perunggu juga banyak dipakai untuk benda lain,
seperti senjata tajam dan baju pelindung.
Untuk menjawab pertanyaan mengapa harga logam berharga itu tinggi,
gue akan sedikit menyentuh segi Ekonomi dari pertanyaan ini, sebelum gue
masuk ke Kimia. Nah pertama-tama, pastinya, sebuah logam akan dianggap berharga jika logam itu langka.
Kelangkaan adalah masalah utama dalam ekonomi, dimana kita sebagai
manusia punya keinginan yang tak terbatas sementara sumber daya kita
terbatas untuk memuaskan keinginan tersebut. Konsep kelangkaan ini
sering keliru dimengerti oleh orang-orang. Sebuah benda bisa
saja langka, tapi bukan berarti benda itu penting lho.
Agar sebuah benda
menjadi langka, benda itu harus sulit didapatkan, sulit dibuat, atau
keduanya. Karena itu, biaya produksi kita untuk mendapatkan benda itu
akan menentukan kelangkaan benda tersebut. Contohnya, udara. Meskipun
penting banget untuk kehidupan manusia, kita ga perlu biaya untuk
produksi udara. Makanya, udara itu tidak langka, gratis, dan yang jelas
tidak berharga sebagai nilai tukar barang/jasa.
Di sisi yang lain, berlian itu nggak bisa dimakan kalau lo laper,
tapi untuk mendapatkan berlian orang harus mencari dan memprosesnya,
dengan biaya produksi yang tidak kecil. Gak sembarangan orang bisa
menciptakan maupun mendapatkan berlian. Makanya, berlian itu langka dan
harganya tinggi sebagai nilai tukar barang/jasa. Sementara kalo semua
orang bisa dengan mudah menciptakan alat nilai tukar, yang terjadi
adalah sama persis dengan dua cerita inflasi yang gua ulas sedikit di
atas. Semua orang langsung "kaya", dan nilai tukar malah merosot dan
roda perekonomian gak berputar dengan lancar.
Ketiga logam tadi (emas, perak, tembaga) itu cukup langka di dunia
klasik. Makanya, ketiga bahan tadi menjadi bahan pembuat koin dalam
jangka waktu yang cukup panjang dalam sejarah. Tapi selain langka, ada
syarat lain agar bahan-bahan tersebut cocok untuk dijadikan uang. Di
sini baru sifat-sifat kimia suatu bahan jadi "persyaratan" yang membuat
bahan itu berharga. Pertama, nilai tukar tersebut (dalam hal ini koin)
harus bisa bertahan lama agar bisa terus beredar sebagai nilai alat
tukar. Oleh karena itu, logam yang dipakai harus tahan terhadap korosi
atau oksidasi di udara yang lembap.
Nah, ketiga logam ini (emas, perak, tembaga) dianggap sebagai logam
mulia karena tidak mudah berkarat. Sebetulnya kalo definisi dari logam
mulai itu adalah logam yang tidak mudah berkarat, berarti logam mulia
sebenarnya gak cuma tiga itu. Ruthenium, rhodium, palladium, osmium,
iridium dan platinum juga sebenarnya termasuk logam mulia, tetapi mereka
ditemukan pada abad ke-18 ke atas, jauh setelah koin emas, perak dan
perunggu dipakai secara umum. Merkuri atau raksa juga termasuk logam
mulia sih, tapi wujudnya yang cair dalam suhu ruangan bikin dia jadi gak
bisa dipake.
Keliatan kan beda jauh harganya? Timah (tin) harganya 9 dolar per lb (kurang setengah kilogram) dan ruthenium harganya 60 dolar per ozt (31 gram)
Logam-logam mulia disusun berdasarkan posisinya di tabel periodik.
Tembaga (Cu), Perak (Ag) dan Emas (Au) ada dalam satu golongan.
Nilai emas yang tinggi sebagai uang ini juga penting dalam ilmu cikal bakal kimia, al-kimia (alchemy). Pada abad ke-8, seorang ilmuwan al-kimia Arab, Jābir ibn Hayyān,
dikenal sebagai "Bapak ilmu Kimia" oleh banyak orang karena
memperkenalkan konsep yang belum digunakan dalam al-kimia sebelumnya.
Konsep ini menekankan metode saintifik dan eksperimen di laboratorium untuk mempelajari unsur-unsur. Jābir juga tercatat sebagai orang pertama yang menggunakan aqua regia, atau air raja, campuran HNO3 dan HCl dengan rasio 1:3. Aqua regia ini dapat melarutkan logam mulia yang paling mulia jaman itu, alias emas.
Namun, metode saintifik yang dibawa oleh Jābir alias Geber ini belum
banyak digunakan oleh pelaku al-kimia lain. Tujuan dari para pelaku
al-kimia (yang masih ngawur) secara umum cuma dua:
menemukan zat yang bisa mengubah logam lain menjadi emas atau perak;
menemukan zat yang bisa menyembuhkan semua penyakit dan bisa memberikan hidup panjang bahkan hidup abadi.
Kok jadi kayak di dongeng-dongeng yah? Ya emang beneran ada kok
periode dimana orang-orang nyari obat awet muda, ramuan buat ngubah
benda jadi emas, berlian, ruby, sapphire, dsb. Kalo kita yang denger di
jaman sekarang mungkin terdengar konyol, tapi emang itulah proses
tahapan belajar dari yang ngaco jadi makin bener, dan makin bener terus.
Ilmu al-kimia (yang masih rada ngaco) inilah yang akhirnya berkembang menjadi ilmu kimia (yang udah bener saintifik) pada era enlightenment abad
ke-16 di mana metode saintifik mulai digunakan lebih luas. Dengan
perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, akhirnya kita tahu sekarang
bahwa al-kimia itu ngawur, karena identitas unsur ditentukan oleh inti atomnya dan tidak bisa berubah, kecuali oleh reaksi inti - fusi dan fisi.
Kenapa ya sekarang kita nggak lihat emas dan perak lagi sebagai bentuk nilai mata uang kita?
Dalam sejarah, penggunaan uang komoditas semakin berkurang ketika
banyak negara berpindah ke sistem uang fiat pada abad ke-18. Apa itu
sistem fiat? Sistem fiat adalah sistem, di mana uang yang beredar hampir
nggak mempunyai nilai nyata atau intrinsik, tapi karena pemerintah
bilang itu ada nilainya jadinya bernilai deh. Maksudnya, kertas yang
dicetak dengan gambar dan tulisan Rp. 100,000 itu bernilai 100,000
rupiah karena mempunyai tanda legal oleh hukum dari pemerintah
Indonesia. Apa alesannya nilai mata uang berpindah dari coin jadi
kertas? Yang pasti adalah nilai kepraktisan, dari mulai kepraktisan
mencetak, sampai kepraktisan dalam penyimpanan, dan kepraktisan dalam
transportasi. Peralihan uang koin ke kertas sendiri terjadi tidak
serempak di seluruh dunia, dari mulai yang pertama China (abad ke-7),
Italia (abad ke-14), Amerika Serikat (abad ke-17). Kebayang yah lo
gimana ribetnya transisi nilai tukar dari logam mulai ke kertas (abis
belum ada internet, twitter dan facebook jadi seluruh dunia gak bisa
langsung kompak).
Tadinya, semua uang kertas dan koin yang dicetak itu di-"patok" ke
komoditas tertentu, biasanya emas atau perak, terutama dolar Amerika
sebagai mata uang internasional. Pada tahun 1944, dolar Amerika dipatok
pertukarannya, yaitu 35 dolar untuk satu troy ounce (31.103 gram) emas.
Jadi semua mata uang negara lain dapat ditukar dengan dolar Amerika
sehingga semua pertukaran uang jelas rasionya terhadap emas.
Awalnya sistem ini oke-oke aja, karena satu negara Amerika ekonominya
lebih besar dari sepertiga dunia. Tetapi memasuki tahun 1970, porsi
ekonomi Amerika dibanding dunia turun cukup drastis sehingga kekayaan
riil (emas) Amerika nggak cukup lagi buat menjamin nilai uang mereka.
Akhirnya patokan riil uang terhadap emas dihapus oleh Amerika dan semua
nilai mata uang dibiarkan "mengambang" tanpa benda nyata yang terjamin
bisa ditukarkan. Tapi tanpa patokan tersebut pun, uang kita masih
berfungsi sebagai uang karena sifat yang diperlukan adalah sebagai alat
penyimpan nilai, alias uangnya sendiri gapapa kalau nggak bernilai.
Nilai emas dan perak sendiri sekarang "mengambang" mengikuti penawaran
dan permintaan pasar.
Buat lo yang udah sering baca tulisan-tulisan gue, mungkin udah pada tau kalo gue orangnya lumayan doyan baca buku. Berhubung gue orangnya telaten (anggep saja begitu), jadi setiap buku gua itu pasti selalu gua rawat, gua kasih sampul yang rapi, bahkan gua catet kapan gua beli/dapetin buku itu. Dari ratusan buku yang gua punya, kalo ditanya "Glenn, dari seluruh koleksi buku lo, buku mana sih yang paling berharga?" maka gua akan jawab tanpa ragu Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Wah, emang buku apaan tuh, kok bisa jadi paling berharga?
Buku Catatan Seorang Demonstran
Buku ini sebetulnya lebih tepat disebut sebuah dokumentasi catatan harian seorang intelektual muda Indonesia (bernama Soe Hok-Gie) yang ditulis ketika dia berumur 15-27 tahun (1957-1969), tepat pada sebuah era dimana bangsa Indonesia mengalami pergulatan politik dan sejarah yang paling gelap sekaligus paling mencekam dalam sejarah bangsa Indonesia. Kebetulan banget, buku ini pertama kali gua dapatkan pada waktu gua berumur sama persis dengan Gie ketika dia pertama kali menulis "hari pertama" dalam catatan hariannya, yaitu ketika gua (dan Gie) sama-sama berumur 15 tahun.
Mungkin itulah sebabnya buku ini menjadi begitu spesial buat gua. Karena bisa dibilang gua tumbuh bersama dengan buku ini, menjadi buku yang paling menginsiprasi hidup gua, sekaligus juga buku yang paling banyak gua baca dari sejak SMP, SMA, kuliah, bahkan sampai sekarang. Mungkin tanpa buku ini, gua tidak akan menjadi diri gua yang sekarang ini. :)
Tepat hari ini 45 tahun yang lalu, pada tanggal 16 Desember 1969. Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhir di tanah tertinggi di Pulau Jawa karena (diduga kuat) menghirup gas beracun, pada usia 27 tahun kurang satu hari. Peristiwa kematiannya ini begitu menghebohkan banyak elemen masyarakat Indonesia pada masa itu, dari mulai para akademisi, wartawan, kaum aktivis mahasiswa, dan banyak pihak lainnya. Sampai-sampai ada sebagian masyarakat yang menduga Gie sebetulnya dibunuh oleh pihak pemerintah Orde Baru pada masa itu, karena dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah.
Tepat hari ini 45 tahun yang lalu, pada tanggal 16 Desember 1969. Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhir di tanah tertinggi di Pulau Jawa karena (diduga kuat) menghirup gas beracun, pada usia 27 tahun kurang satu hari. Peristiwa kematiannya ini begitu menghebohkan banyak elemen masyarakat Indonesia pada masa itu, dari mulai para akademisi, wartawan, kaum aktivis mahasiswa, dan banyak pihak lainnya. Sampai-sampai ada sebagian masyarakat yang menduga Gie sebetulnya dibunuh oleh pihak pemerintah Orde Baru pada masa itu, karena dinilai terlalu keras mengkritik pemerintah.
Gie menutup usia pada umur yang terbilang cukup muda (27 tahun), tapi buah pemikirannya, tulisan-tulisannya yang fenomenal, kritik tajamnya terhadap pemerintah, sampai skripsinya tentang sejarah pemberontakan tetap menjadi bahan diskusi dan perbincangan di kalangan akademisi kampus, mahasiswa, dosen-dosen, bahkan para professor dan peneliti sejarah dari generasi ke generasi hingga saat ini. Lantas sebetulnya apa sih yang spesial dari hidup Gie? Apa sih yang menyebabkan sebagian orang bahkan ada yang menduga bahwa kematiannya disebabkan karena percobaan pembunuhan? Apa sih yang bisa diraih oleh seorang anak muda hanya dengan 27 tahun hidupnya? Sampai-sampai namanya bak bagaikan legenda yang terus terdengar dari setiap generasi ke generasi angkatan mahasiswa selama 45 tahun terakhir.
Okay, pada hari peringatan 45 tahun kematian Soe Hok Gie ini, gua mendapatkan kehormatan untuk mengulas kembali kisah perjalanan hidup dari seorang legenda mahasiswa Indonesia. Pastinya, sebuah tulisan artikel seperti ini gak mungkin bisa merangkum kehidupan seseorang yang begitu panjang, begitu kompleks, dan begitu dalam dengan segala dinamika pemikiran dan emosi di dalamnya. Tapi moga-moga apa yang gua tulis di sini bisa menjadi perpanjangan tangan buat setiap generasi yang membaca tulisan ini, sehingga bisa kembali terinspirasi oleh potret pemuda Indonesia yang selalu gelisah, yang (walaupun sendirian) berani berdiri tegak dan berteriak lantang akan kebenaran pada sebuah masa-masa paling gelap dan berbahaya yang pernah dialami bangsa Indonesia.
Latar Belakang Kehidupan
Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942, ketika dunia berada di tengah puncak perang dunia kedua dan Indonesia masih dalam proses perjuangan menuju kemerdekaan di bawah kependudukan Jepang. Kalo kita mau bicara tentang hidup dan buah karya pemikiran Gie tentang Indonesia, sedikit banyak lo juga harus memahami tentang latar belakang lingkungan pada saat Gie dibesarkan. Untuk seseorang yang lahir di tahun 40an, lo bisa bayangkan bahwa Gie dibesarkan dan hidup ketika negara Indonesia ibarat bayi yang baru mulai merangkak untuk berdiri dan berjalan sendiri. Saat itu, pastinya Indonesia belum sekompak sekarang ini yang bisa begitu berapi-api membela timnas sepak bola saat melawan negara tetangga. Pada masa awal-awal berdirinya negara Indonesia, negara kita masih banyak diliputi kemelut dengan berbagai macam bentuk kepentingan.
Pada masa-masa kecil-remaja Gie, saat itu Indonesia masih belajar untuk menemukan karakter dan jati diri bangsa yang sesungguhnya, dimana rakyat Indonesia sendiri dari Sabang sampai Merauke itu masih dalam proses mencintai negara yang baru saja berdiri. Sehingga seringkali masih "rewel" dan "bandel" dengan sederetan pemberontakan yang menuntut daerahnya untuk lepas dari kedaulatan RI seperti pemberontakan Madiun (1948), pemberontakan PERMESTA di Manado (1958-1961), pemberontakan DI/TII di Aceh (1953), pemberontakan PRRI di Padang (1958), Pemberontakan Republik Maluku Selatan (1950), dll.
Sementara itu di sisi lain, pemerintah Indonesia sendiri belum punya sistem yang se-professional sekarang ini. Pada masa-masa itu, semua elemen masyarakat mau ikut terlibat dalam pemerintahan untuk ikut ambil bagian mengatur arah bangsa ini. Dari mulai PNI, Masyumi, NU, PKI, Parkindo, PSI, Murba, IKPI, PSII, Perti, dan masih banyak lagi. Jadi jangan dibayangkan pada masa awal berdirinya negara Indonesia "semangat kemerdekaan 45" itu dirayakan dengan penuh kekompakan oleh semua lapisan masyarakat untuk membangun Indonesia.
Aksi Mahasiswa menuntut Tritura
Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, sebetulnya bisa dibilang Indonesia banyak diwarnai oleh konflik kepentingan antara kaum intelektual borjuis, militer, PKI, parpol keagamaan dan kelompok nasionalis lainnya. Situasi politik di Indonesia pun masih dibilang sangat kacau karena tidak adanya profesionalisme yang menyebabkan korupsi, kolusi, dan nepotisme merebak dengan tidak terkendali dan (hampir) semua pihak lebih mementingkan kepentingan partainya masing-masing. Itulah kurang lebih gambaran situasi yang menemani Gie dari kecil hingga remaja, yang tentu berpengaruh besar terhadap pandangan, pemikiran, gagasan, serta keputusan-keputusan Gie selama hidupnya.
Masa Kecil-Remaja Gie
Gie kecil mulai bersekolah di Sin Hwa School, kemudian masuk SMP Strada di daerah Gambir, lalu melanjutkan masa remaja di SMA Kanisius Jakarta jurusan sastra. Masa mudanya dia habiskan di Jakarta dimana dia melihat potret ibukota negara Indonesia yang penuh dengan dinamika sosial dan politik.
Di saat anak-remaja jaman sekarang tumbuh dengan sinetron, idol group, dan "reality" show selebrity. Gie menghabiskan masa kecil-remajanya dengan bolak-balik ke perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan Kota Jakarta. Di saat anak-anak lain seumurannya masih suka keluyuran main layangan, gundu, atau ngoboy keliling kota. Gie mengisi masa kecil-remajanya dengan membaca puluhan (atau mungkin ratusan) "dongeng" sastra klasik, filsafat, sejarah, dan biografi tokoh-tokoh yang mengubah dunia.
Sejak dini (umur 15 tahun), Gie telah membaca tentang dinamika politik di berbagai sudut belahan dunia, tentang berbagai macam pergolakan sejarah pemikiran yang bermunculan dari jaman ke jaman, dari mulai filsafat klasik yunani, hingga ide-ide utopis sebuah masyarakat yang ideal seperti Marx, Paine, Hobbes, Hegel. Dia terbuai dengan begitu banyak kisah sejarah jatuh-bangunnya peradaban, tentang pemikiran-pemikiran progressive tokoh-tokoh dunia yang memerdekakan rakyatnya seperti Gandhi, Martin Luther K Jr, Kartini, dll. Gie juga mengapresiasi sastra kelas dunia yang menggambarkan romantisme emosi dan pemikiran setiap jaman seperti Nietzsche, Tagore, A.Camus, G.Orwell, Steinbeck, Pramoedya, dll.
Wah pokoknya kalo lo tau tentang bahan bacaan Gie dari SD-SMA pasti terbengong-bengong deh. Gua sendiri aja malu waktu pertama kali baca Catatan Hariannya, sampai mikir "Wah gila nih anak bacaannya, dari SD-SMP udah baca André Gide, John Wyndham, Shakespeare, dll...". Dari situlah gua tau bahwa sejak kecil Gie sudah terpesona dengan ilmu dan menikmati proses belajar dengan kegembiraan, bukan belajar karena tekanan dari sekolah atau sekedar mendapatkan nilai yang bagus.
Kelahiran Seorang Intelektual Merdeka
Setelah lulus SMA, Gie melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah di Universitas Indonesia. Di saat pemuda keturunan Tionghoa lain memilih jurusan yang lebih bergengsi, seperti ekonomi, arsitek, dan kedokteran. Gie memilih Fakultas Sastra-Sejarah sebagai gudangnya arus pemikiran, ide, serta gagasan untuk membangun kesadaran politik yang lebih mendalam.
Pemahaman Gie tentang sejarah, politik, ekonomi itu diuji di masa remaja ketika Indonesia berada dalam masa paling kritis, paling gelap, dan paling mencekam sepanjang sejarah republik ini didirikan. Pada saat itulah dia memenuhi panggilannya sebagai seorang intelektual muda dengan menulis kritik keras terhadap pemerintah dan membangun bibit-bibit kesadaran demokrasi agar setiap lapisan masyarakat Indonesia juga memahami masalah di negaranya sehingga kelak ikut terlibat dalam menentukan arah hidup bangsa ini.
Gie juga dikenal sebagai orang yang paling vokal mengkritik kinerja pemerintahan era Soekarno (Orde Lama) serta menjadi salah satu arsitek aksi long-march dan demonstrasi besar mahasiswa tahun 1966 yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan.
Tapi jangan lo bayangin sosok Gie adalah aktivis mahasiswa yang bertampang preman, yang berani berorasi di tengah-tengah bentrokan dengan para aparat. Kalo jaman sekarang aktivis mahasiswa sering digambarkan sebagai sosok preman kampus yang tukang demo, gondrong, tatoan, kalo demo semangat banget padahal sebetulnya belum tentu betul-betul paham konteks permasalahan yang sesungguhnya, hehe.. Gie adalah sosok yang sangat bertentangan dengan image semacam itu.
Perawakannya kecil, alim, cara jalannya lucu, senjatanya boleh jadi hanya pena dan mesin tik. Tapi ketajaman tulisannya di harian Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, and Indonesia Raya membuat seluruh politikus korup saat itu gerah. Gie gak pernah sembarangan menulis dan pastinya bukan tipe mahasiswa yang asal kritik doang. Dia tau betul situasi ekonomi, dia tau betul situasi politik, dia tau betul masalah sosial, peran pemerintah, dan konsekuensinya bagi masyarakat luas. Gie tau betul apa yang sedang dia perjuangkan, he knows what he's doing.
Berikut adalah salah satu cuplikan dari film adaptasi tentang kehidupan GIE (2005) yang dibintangi Nicholas Saputra dan disutradarai oleh Riri Riza.
Kalo lo lihat cuplikan di atas, ada scene beberapa kelompok mahasiswa yang berantem. Pada saat itu di Universitas Indonesia memang menjadi ajang pertarungan intelektual antara mereka yang mendukung Soekarno dan yang menentang Soekarno. Kelompok-kelompok mahasiswa pun bermunculan dari kedua belah pihak, dari mulai HMI, GMNI, CGMI, PMKRI, KAMI, dll. Soe hok Gie selama menjadi mahasiswa tidak pernah tercatat resmi tergabung dengan gerakan kelompok mahasiswa berlatar belakang politik. Menurut Gie, universitas adalah tempat paling suci, tempat dimana arus pemikiran bergejolak dan tidak boleh dibendung serta diatur oleh intervensi politik maupun pemerintah. Bagi dirinya, universitas adalah benteng pertahanan terakhir dari sebuah peradaban dan kemerdekaan intelektual sebuah bangsa.
Tunggu dulu sebentar, ngomong-ngomong kenapa Gie mengkritik Presiden Soekarno? Bukankah Soekarno itu dikenal sebagai presiden yang baik?
Yap, sebagian besar penduduk Indonesia saat ini mungkin memandang Soekarno adalah pahlawan Indonesia nomor satu, sebagai bapak proklamator yang memperjuangkan kemerdekaan RI secara intelektual, sekaligus sebagai Presiden pertama RI yang disegani dunia internasional. Tidak bisa dipungkiri memang Soekarno telah berperan luar biasa besar bagi bangsa ini dari masa Hindia Belanda, memperjuangkan hak berpendapat dan kesetaraan di Den Haag, keluar-masuk penjara, sampai bernegosiasi dengan pemerintahan Jepang untuk memerdekakan Indonesia. Dialah sosok yang menaruh begitu banyak dasar dan fondasi pemikiran dan gagasan bagi negara ini, sampai akhirnya Soekarno dan angkatan 45 lainnya seperti Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dll membawa Indonesia merdeka untuk membangun kedaulatan yang mandiri.
Namun demikian, bahkan sosok Soekarno juga bukan berarti seorang yang sempurna dan tanpa cacat. Ada masa dimana kebijakan-kebijakan politiknya begitu banyak dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya yang pandai menjilat serta membawa kepentingan pribadi dan partai. Sehingga di masa-masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno, ada begitu banyak penyimpangan politik seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dari mulai pembentukan demokrasi terpimpin yang semakin mengarah pada otoriterianisme, praktik kolusi dan nepotisme (siapa yang punya koneksi akan diuntungkan), sampai penyalahgunaan kekuasaan dimana uang dana revolusi yang dikumpulkan dari keringat rakyat dan karcis-karcis bioskop, dihambur-hamburkan oleh orang-orang pemerintah pusat di luar negeri.
Posisi Gie pada saat itu jelas menentang Soekarno sebagai seorang politikus, tapi bukan berarti Gie tidak menghormati Soekarno. Dalam salah satu catatan hariannya, Gie menulis :
"Saya kira saya menyukai Soekarno sebagai seorang manusia, tapi sebagai seorang pemimpin, tidak!"- Soe Hok Gie
Memang dalam memahami kehidupan seseorang kita tidak bisa melihat hanya dari satu sisi kehidupan saja. Kita tidak bisa melihat sebuah keputusan atau kelemahan manusia sebagai hal yang seolah-olah bisa menjawab, merangkum, serta mewakili seluruh kehidupan seseorang. Jadi buat gua pribadi, apa yang disampaikan Gie pada catatan harian, tulisan-tulisan, maupun skripsinya adalah satu sisi pandangan dari "kacamata" Gie pada jaman itu, dan tidak mewakili sosok yang dia kritik secara menyeluruh.
Setelah menggulingkan pemerintahan Soekarno, lalu apa yang terjadi?
Kalo lo baca artikel zenius sebelumnya tentang dinamika catatan sejarah gerakan 30 September 1965. Lo akan tau bahwa pasca penggulingan Soekarno, Indonesia dikuasai rezim militer Orde Baru yang diawali dengan serangkaian penumpasan PKI yang dianggap sebagai dalang peristiwa pembunuhan keenam Jendral. Pada masa-masa itulah, Indonesia memulai babak baru yang sangat mencekam, dimana jutaan rakyat yang dianggap memiliki keterkaitan erat dengan PKI dipenjarakan bahkan dibunuh tanpa proses peradilan yang jelas.
Pada masa-masa itu (pasca G30S/65), seluruh lapisan masyarakat di Indonesia diam dalam kengerian. Para awak media dan wartawan bungkam karena takut mengungkap kebenaran. Lalu siapakah orang pertama yang berani berteriak lantang menyatakan kebenaran? Yak, siapa lagi kalau bukan Soe Hok Gie. Dia adalah orang yang pertama kali dengan berani membeberkan serangkaian peristiwa pembunuhan di Bali oleh rezim ORBA yang (pada saat itu) diperkirakan menelankan korban sampai 80.000 jiwa. Berikut adalah salah satu cuplikan di film GIE ketika menggambarkan kondisi krisis politik Indonesia pada masa itu. Cuplikan ini udah gua atur supaya langsung ke bagian yang relevan dalam pembahasan artikel ini.
Keberanian Gie mengungkapkan fakta pada masa itu mungkin bagi sebagian orang saat itu dinilai naif, sembrono, bahkan mungkin tidak sayang nyawa. Tapi bagi seorang Soe Hok Gie, itu adalah panggilannya sebagai seorang intelektual, untuk berani menyatakan kebenaran. Ada seorang teman Gie dari Amerika yang menulis surat bahwa Gie akan selalu menjadi intelektual yang bebas tapi juga seorang pejuang yang sendirian. Gie menjawab dengan kata-kata ini:
"Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka" - Soe Hok Gie
Hobby & Romantisme kehidupan Gie
Di sisi lain kehidupannya, Gie bukanlah orang yang selalu menghabiskan waktunya dengan belajar, baca buku, menulis, dan mengkritik pemerintah. Dia juga manusia biasa dengan segala kekonyolan dan romantikanya tersendiri. Untuk hobby, Soe Hok Gie yang alim dan badannya kecil ini punya hobby yang agak nyentrik saat itu, yaitu naik gunung!
Jauh sebelum kegiatan naik gunung itu populer di kalangan anak muda jaman sekarang. Soe Hok Gie, Herman Lantang, Maulana, Koy Gandasuteja, dan kawan-kawannya yang lain menjadi perintis berdirinya MAPALA UI (Mahasiswa Pecinta Alam). Sebuah organisasi pecinta alam yang sampai saat ini aktif sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) di Universitas Indonesia. Ada satu penggalan kata-kata Soe Hok Gie ketika dia ditanya apa alasan dan tujuannya mendirikan organisasi pecinta alam ini:
"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” - Soe Hok Gie
Lo bisa lihat sekali lagi bahwa Gie adalah orang yang tau betul setiap alasan dibalik tindakan dan keputusannya. Bagi seorang Gie, rasa nasionalisme dan kecintaan pada bangsa itu nggak mungkin bisa dipupuk hanya dengan slogan dan bentuk propaganda yang dicekoki oleh pemerintah (makanya terjadi banyak pemberontakan pada masa itu). Menurut dia rasa nasionalisme dan rasa kebersatuan dengan bangsa itu hanya bisa tumbuh jika orang yang bersangkutan terlibat dan menyentuh langsung secara tulus dan melalui proses yang sehat.
Satu hal lain yang menarik dibalik kehidupan pribadi seorang pemuda yang cerdas dan berani adalah bahwa ternyata Gie itu sangat payah dalam percintaan, hahaha.. Menurut beberapa kawan dekatnya, Gie dikenal sebagai orang yang pemalu dan payah kalo soal deketin cewek. Tapi di satu sisi Gie adalah orang yang romantis, pecinta binatang, dan tulus dalam persahabatan.
Kematian, Kesendirian, dan Warisannya bagi kita semua
Satu hal ironis yang dialami Gie menjelang kematiannya adalah ketika semua orang lambat laun menjauhi dirinya karena takut dianggap terlibat dan berkawan dengan pembela PKI. Pada salah satu tulisan catatan hariannya, Gie menulis bahwa dia selalu merasa dihargai oleh ayah dari gebetannya sebagai seorang pemuda yang cerdas, jujur, dan berani. Namun demikian, dia (ayah gebetannya itu) tetap tidak menyetujui hubungan Gie dengan putrinya karena dinilai terlalu berbahaya.
Banyak orang-orang yang mengagumi dan membutuhkan dirinya, tapi sangat sedikit yang mau terlibat dan menemani Gie untuk berjuang bersama. Mungkin itulah tamparan sekaligus ujian terbesarnya sebagai orang yang memutuskan untuk menjadi manusia yang merdeka dalam melawan kesewenang-wenangan. Bahwa untuk menjadi seorang yang jujur dan berani menyatakan kebenaran, dia juga harus berani melawan kesepian, kesendirian, dan segala konsekuensinya.
Gua selesai menulis artikel ini, malam hari 16 Desember 2014, tepat ketika Gie menghembuskan nafas terakhir 45 tahun yang lalu, juga di umur yang sama persis ketika Gie meninggal pada saat itu, 26 tahun. Melalui artikel ini gua berharap tulisan ini bisa menjadi sekadar bukti, bahwa pada akhirnya Gie tidak benar-benar sendirian. Bahwa obor yang dia bawa selama hidupnya, diestafetkan pada begitu banyak pemuda di generasi ke generasi berikutnya. Sebelas tahun yang lalu obor itu diberikan pada gue saat gue berumur 15 tahun, dan sekarang adalah saatnya gua memberikan obor itu kepada lo semua yang membaca artikel ini.
Gua menutup artikel ini dengan impian Soe Hok Gie yang sempat dia tulis, dan moga-moga kita semua bisa melanjutkan mimpinya tersebut. Selamat ulang tahun Soe Hok Gie, semoga apa yang kamu wariskan tetap abadi dan terus menginspirasi anak muda Indonesia.
"Saya bermimpi tentang sebuah dunia dimana tokoh agama, buruh dan pemuda bangkit dan berkata : Stop Semua Kemunafikan! Stop semua pembunuhan atas nama apapun! Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik." - Soe Hok Gie
Mitos sains apa aja sih yang masih suka bikin orang terkecoh?
Setelah gue pikir-pikir, wuih buanyaak. Banyak orang (termasuk juga gue dulu) pikir mitos tersebut adalah fakta karena turut diperkuat oleh lembaga pendidikan. Ya, bahkan materi pengajaran yang kita dapat di sekolah pun ga luput dari mitos sains. Nah lho!
Sebagian mitos lagi mengakar di pikiran masyarakat lewat afirmasi media, seperti jargon-jargon di iklan, majalah, buku, sampe film-film Hollywood. Jargon-jargon ini diulang berkali-kali selama beberapa generasi sampe tertanam ke alam bawah sadar masyarakat. Karena udah sering diulang-ulang, masyarakat dengan mudahnya mengamini, menganggapnya fakta, dan ga mau repot-repot memikirkan kalo itu benar atau enggak. Ya tinggal terima aja lah, toh dari dulu dibilangnya begonoh. Sampai-sampai kalo ada pihak yang mencoba meluruskan mitos yang mereka percaya, pihak itu malah dinyolotin balik, dibilang sok tau lah, nyinyir, dsb. Hahaha.. #ketawangenes
Tapi mitos itu sendiri berawal dari mana sih? Pasti ada proses kan di mana suatu konsep dicetuskan sebelum akhirnya jadi populer, apalagi mitos sains. Biasanya nih, mitos sains itu lahir dari:
1. Salah tafsir temuan sains yang valid
Jurnal sainsnya bilang apa, jurnalis yang meliput bilang apa. Biasanya para jurnalis ini oversimplifikasi konsep yang dipaparkan di jurnal tersebut untuk menciptakan headline yang bombastis atau mengambil kesimpulan hanya dari penggalan-penggalan kalimat. Karena jurnalisnya udah terlanjur gembar-gemborin di media, orang udah keduluan percaya. Pas saintisnya mau klarifikasi balik, beritanya kalah heboh dengan headline bombastis yang di awal.
2. Konsep sains yang udah kedaluwarsa
Padahal udah ada hasil penelitian terbaru yang menggantikan atau menyempurnakan konsep sains yang lama ini. Tapi sepertinya masyarakat terlalu lembam (baca: malas mikir) untuk menerima temuan terbaru. 3. Konsep yang ngakunya ilmiah
Tapi ternyata kalo dicermati metode yang dilakukan, ngaco secara saintifik dan logika berpikir. Bisa saja sampelnya kurang representatif, tidak melalui peer review (ditinjau balik oleh sesama saintis), variabelnya kurang lengkap, seharusnya hanya berkolerasi malah dibilang punya hubungan langsung, dll.
Nah, di tulisan kali ini, untuk nyegerin otak lo yang udah mulai panas karena digempur persiapan ujian mulu, gue mau mengkompilasikan 10 (aja) mitos sains yang masih suka bikin orang terkecoh dan dipercaya secara luas, mungkin termasuk juga lo. Cekidot gan!
1. Pembagian Otak Kanan-Kiri mempengaruhi gaya belajar
Mitos ini gue taruh di nomor 1 karena gue lihat populer banget dan impact-nya cukup luas. Guru-guru di sekolah pun banyak yang percaya dan mempengaruhi anak didiknya. Pada derajat tertentu, menelan konsep ini metah-mentah bisa berbahaya.
Coba aja cermati kalimat-kalimat berikut.
“kamu tuh tipe otak kanan, kayaknya emang lebih cocok masuk IPS”
“anak IPA itu dominan otak kiri”
“pengen sih belajar piano, tapi gue kan anaknya otak kiri ya, kayaknya ga bisa deh kalo disuruh belajar musik dan seni gitu”
Kalimat-kalimat di atas seakan-akan mencoba mengkotak-kotakan, membentuk stereotyping yang menggerus harga dan kepercayaan diri, hingga menghambat potensi seseorang. Lo seperti menghakimi diri lo sendiri dengan label yang bikin diri lo males gerak. Padahal kita tahu, kesuksesan itu adalah resultan dari usaha keras dan konsisten serta mindset yang positif.
Parahnya, kalimat-kalimat di atas didasarkan atas konsep yang keliru. Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak (split brain experiment) di tahun 1960an. Walaupun ada distribusi kerja di masing-masing bagian otak, faktanya, otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun. Kak Pras udah pernah mengulas mitos otak kanan-kiri secara lengkap, mulai dari asal mula, berkembangnya mitos, dan dampaknya di artikel ini.
2. Eh belum 5 menit!
Kalo di luar negeri sih, namanya “5 Seconds Rule”, bukannya 5 menit. Gue ga ngerti kenapa di Indonesia jadinya 5 menit. Ga ada juga orang yang nungguin makanan jatuh sampe 5 menit, kan? xD Biasanya kalo makanan jatuh, ya langsung diambil dalam hitungan detik. Trus hap masuk lagi ke mulut. Hii..
“5 Seconds Rule” adalah kepercayaan yang bilang bahwa butuh waktu 5 detik buat bakteri di lantai untuk mengkontaminasi makanan yang jatuh ke lantai. Kalo bisa ambil makanan yang jatuh dari lantai dalam waktu kurang dari 5 detik, makanannya masih bagus buat dimakan karena bakteri belum sempat “menyentuh” makanan tersebut. “5 Seconds Rule” ini tidak lebih dari anjuran supaya kita ga buang-buang makanan.
Dan faktanyaa, sedikit kontak aja dengan lantai, bahkan 1 detik aja, bakteri-bakteri di lantai pasti langsung mengkerubuti makanan yang jatuh itu. Penelitian menujukkan, ga ada perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai dalam 2 detik dengan jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai yang sama selama 6 detik. Iya, hal sesimpel ini aja ada penelitiannya. Yang neliti dapat hadiah Nobel lagi. Huwoo.. 3. Manusia baru make 10% kapasitas otaknya
Mitos otak yang satu ini menyatakan kalo manusia baru memanfaatkan 10% kapasitas otaknya, 90% lagi masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Biasanya mitos ini juga dibarengi dengan mitos serupa, seperti “Einstein sudah bisa memanfaatkan otaknya 16%, manusia biasa baru 10%”.
Kalo emang otak lo baru dipake 10%, lo ga akan bisa membaca tulisan gue ini. Fakta bahwa lo lagi segar bugar di depan laptop baca tulisan ini, adalah bukti kalo otak lo sudah berfungsi sepenuhnya. Jika hanya 10% bagian otak lo yang bekerja, lo udah stroke kali.
Sama dengan mitos otak sebelumnya, mitos ini juga lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains. Mitos ini bisa populer karena seakan memberi pengharapan (palsu) pada pelajar yang nilainya jelek atau pas-pasan bahwa ada cara instan untuk mengaktivasi 90% bagian otak lainnya. Heleh heleh, gue yakin anak Zenius ga ada yang begini ya. Seperti gue sebutkan sebelumnya, usaha keras memang harga mati untuk meraih apa yang kita inginkan. Everything has its price. Einstein sendiri bilang, "I have no special talent. I am only passionately curious."
4. Lidah punya zona-zona untuk mengecap rasa tertentu
Materi ini pasti kalian dapetin pas belajar Biologi di sekolah. Gue aja kadang masih ngajarin materi ini di kelas 8 SMP dan 11 SMA karena tuntutan soal ujian. Gagasan ini menyatakan bahwa lidah sebagai indera pengecap mempunyai area tertentu untuk mengecap rasa yang berbeda.
Dari mana mitos ini lahir? Konsep ini bermula dari sebuah penelitian yang landasannya ga kuat. Pada 1901, seorang ilmuwan Jerman melalukan penelitian terhadap sensitivitas lidah pada 4 rasa yang umum (manis, asam, asin, pahit). Ditemukan bahwa terdapat perbedaan waktu pada bagian2 lidah untuk bisa mendeteksi rasa dari suatu zat makanan. Tapi perbedaan waktunya tipiiis banget. Entah kenapa, terjadi simplifikasi bahwa perbedaan waktu ini dibilang jadi perbedaan sensitivitas.
Padahal, walaupun satu bagian pada lidah bisa mendeteksi sedikit lebih cepat suatu rasa, semua bagian pada lidah bisa bisa merasakan semua jenis rasa dengan level intensitas dan sensasi yang sama.
Sebenarnya gampang banget kalo lo mau membuktikan peta rasa pada lidah itu keliru. Ya coba aja lo taruh garam di ujung depan lidah lo, lo bisa merasakan rasa asin. Taruh gula di pangkal lidah, lo bakal tetap bisa merasakan rasa manis.
Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Colombia (2014) berhasil mengungkap bahwa ada 8.000 sensor yang tersebar di lidah dapat merasakan berbagai rasa secara merata, ga per bagian.
Yang masih menjadi misteri adalah kenapa konsep yang udah kedaluwarsa ini masih diajarin di sekolah. Ga hanya di Indonesia aja, di kurikulum Amerika sana, materi ini masih masuk jadi bahan ajar. Hemhh..
5. Aktivasi Otak Tengah
Menurut deskripsi program Aktivasi Otak Tengah (AOT), otak tengah manusia pada umumnya masih belum aktif. Program ini menawarkan jasa mengaktifkan otak tengah dengan teknologi mutakhir untuk meningkatkan konsentrasi, kemampuan sosial, fisik, kreativitas, dan keseimbangan otak kanan dan kiri padahal ini juga mitos zzz).
Mitos yang satu ini bukan lahir karena salah tafsir temuan ilmiah maupun ilmu yang kedaluwarsa. Mitos ini lahir dari konsep yang ngaku-ngakunya ilmiah, padahal sama sekali tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dasar yang valid tentang otak.
Otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang. berfungsi mengontrol respon penglihatan, pendengaran, gerakan bola mata dan dilasi pupil, gerakan motorik, kewaspadaan (alertness), serta mengatur suhu tubuh. Sedari kecil, otak tengah kita sudah berfungsi. Gampang aja untuk mengatehaui apakah program AOT ini bener atau enggak. Sesuai dengan fungsinya, kalo bener otak tengah kita masih "tidur” atau belum aktif, berarti pergerakan bola mata jadi abnormal, kena penyakit Parkinson, hingga stroke.
Hebohnya lagi, program Aktivasi Otak Tengah diiringi dengan klaim fantastis, seperti setelah anak diaktvasi otak tengahnya, ia jadi bisa melihat dengan mata tertutup dan jenius dalam hitungan hari. Wah gimana masyarakat awam ga tertarik ya dengan cara instan seperti ini. Apalagi orang tua yang sangat mendambakan anaknya jadi seorang jenius.
6. Manusia (hanya) punya 5 indera
Kita diajarin di bangku sekolah kalo manusia punya 5 indera, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Tapi gimana caranya gue bisa merasakan keseimbangan tubuh, akselerasi ketika gue lagi lari, hingga merasakan suhu tubuh naik ketika gue lagi demam?
Nah, ini juga salah satu mitos yang masih masuk ke pelajaran sekolah. Katanya, manusia cuma punya 5 indera. Bahkan ada pula yang bilang ada indera keenam, which is nonsense. Hehehe.
Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk memproses informasi sensorik untuk kemudian dikirim ke otak agar bisa diinterpretasi. Gagasan tradisional “Manusia hanya punya 5 indera” sebenarnya hanya penyederhanaan di bangku sekolah yang lahir sejak jaman Aristoteles. Tapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sains makin bisa mengidentifikasi bahwa faktanya, indera manusia itu banyak lho, bahkan lebih dari 6. Manusia memiliki total hingga 21 indera, meliputi indera tekanan, rasa gatal, suhu, posisi tubuh (proprioception), ketegangan otot, rasa sakit (nociception), keseimbangan (equilibrioception), zat kimia dalam tubuh (kemoreseptor), rasa haus, rasa lapar, waktu, dan lain-lain. 5 indera itu minimum. Mengatakan kalo manusia cuma punya 5 indera, itu seperti meremehkan kerja tubuh kita yang kompleks ini ya.
7. Bahan kimia itu berbahaya
Wah, mitos ini sepertinya udah lumayan mengakar di pikiran masyarakat. Terima kasih pada iklan-iklan produk herbal dan tradisional yang mencoba mengurangi dominasi produk pabrikan modern. Mitos ini bisa mengakar di masyarakat Indonesia, khususnya, karena (gue lihat) 2 faktor, yaitu (1) background budaya Indonesia yang mengandalkan apa-apa langsung ambil dari alam sebelum mengenal produk pabrikan modern dan (2) kadang harga produk pabrikan modern agak mahal, ga pas dengan sebagian besar kantong masyarakat Indonesia. Ini jadi peluang bisnis sendiri bagi para produsen produk “herbal” dan “alamiah”. Selanjutnya, melihat adanya tren di masyarakat Indonesia yang menggemari produk “herbal”, mulailah perusahaan-perusahaan besar meluncurkan produk yang ikut mengaku “herbal”.
Padahal mah imej negatif pada “bahan kimia” dan imej positif pada “herbal” itu misleading ya. Faktanya, semua hal yang ada di sekitar kita adalah bahan kimia. Seluruh tubuh kita tersusun dari jutaan molekul dan senyawa kimia. Benda yang lo gunakan tiap harinya, mulai dari meja, teflon penggorengan, baju, sampe alat elektronik, juga terbentuk dari bahan kimia. Bahkan segala sesuatu yang berasal dari alam, juga bahan kimia. Air yang lo minum, udara yang lo hirup, api yang lo nyalain, hingga sebutir beras yang lo makan, bahan kimia juga kan!?
Bahan kimia bisa jadi berbahaya, ga peduli bahan kimia itu kita langsung dapat dari alam atau udah melalu proses pabrik (yang toh juga berasal dari alam). Suatu bahan kimia bisa jadi berbahaya atau bermanfaat bergantung pada cara dan dosis pemakaiannya. Selain itu, produk herbal yang mengklaim dirinya langsung diperoleh dari alam bisa juga berbahaya, jika tidak melalui proses atau standar kesehatan yang ditetapkan lembaga resmi pemerintah.
8. Minum antibiotik pas demam atau flu, biar cepat sembuh
Guys, ada ga orang terdekat atau anggota keluarga lo, yang dikit-dikit mengandalkan antibiotik ketika sakit ringan?
Wah, kalo ada, lo sebaiknya memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan bisa jadi keliru. Antibiotik berasal dari kata anti dan bio (hidup). Berarti digunakan untuk membunuh sesuatu yang hidup. Antibiotik, secara definisi, membunuh bakteri. Nah, batuk, sakit telinga, sakit tenggorokan, pilek, flu, dan demam ringan itu disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus. Walaupun memang dalam beberapa kasus penyakit yang disebabkan oleh virus ini, terkadang berpotensi "mengundang" bakteri, sehingga dalam diagnosa tertentu diperlukan antibiotic.
Tapi secara umum yang mau gua tekankan di sini adalah persepsi yang keliru bahwa antibiotic adalah "obat-segala-penyakit" yang bisa menyembuhkan hampir semua penyakit ringan, termasuk yang disebabkan oleh virus. Kenapa? Coba ingat2 lagi pelajaran Biologi kelas 10. Virus itu bukanlah makhluk hidup. Virus punya materi genetik, tapi tidak bisa melakukan aktivitas kehidupan, seperti metabolisme hingga reproduksi, tanpa bantuan inang. Virus itu berada di tapal batas antara benda mati dan benda hidup. Jadi ga nyambung kan menggunakan antibiotik untuk mengatasi virus?
Minum antibiotik dengan tujuan yang tidak sesuai dengan fungsi dasarnya atau dosis yang ditetapkan dapat menyebabkan bakteri umum lainnya di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat. Hal ini bisa memicu terbentuknya “bakteri super” yang menyebabkan penyakit yang jauh lebih buruk daripada penyakit awal. Ketika dikasih antibiotik pada dosis yang sama, mereka udah ga mempan lagi. Butuh antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi lagi.
Antibiotik itu ga bisa sembarangan beli di apotek ya tanpa resep dokter. Namun, sayangnya, kadang ada oknum dokter yang tidak bertanggung-jawab yang suka kasih resep antibiotik untuk pasien dengan gejala sakit ringan. Di sisi lain, terkadang ada juga pasien yang bandel terus langsung minum antibiotic tanpa resep dan diagnosa dari dokter. Dalam konteks ini, penting banget buat pasien untuk mengerti kenapa antibiotik ga bisa mengatasi virus dan juga secara aktif menanyakan pada dokter apakah hasil diagnosanya memang ada potensi pertumbuhan bakteri, karena jika tanpa alasan yang kuat, konsumsi antibiotic justru berpotensi buruk bagi kesehatan jangka panjang.
9. Minum susu secara teratur bisa mengurangi risiko osteoporosis
Dari kecil, kita udah dikasih “doktrin” supaya rajin minum susu karena merupakan sumber asupan kalsium yang bagus untuk kesehatan tulang.
Osteoporosis atau tulang keropos adalah keadaan melemahnya tulang karena ketidakseimbangan antara terbentuknya sel tulang baru dan kerusakan tulang. Orang biasanya kehilangan sel tulang seiring bertambahnya usia.
Mengkonsumsi kalsium dengan cukup dan memaksimalkan cadangan tulang pas tulang lagi aktif-aktifnya tumbuh (hingga usia 30 tahun) memang memberikan fondasi penting bagi masa depan. Tapi hal ini ga mencegah kerusakan tulang di kemudian hari. Kerusakan tulang seiring berjalannya usia adalah hasil dari berbagai faktor, meliputi faktor genetik, kurangnya aktivitas fisik, dan menurunnya kadar hormon dalam tubuh.
Jadi, mengurangi risiko osteoporosis jangan terpaku pada minum susu dan konsumsi kalsium saja. Sudah banyak studi yang menemukan bahwa tidak ada hubungan antara asupan kalsium yang tinggi dengan kurangnya risiko patah tulang. Tapi kurang asupan kalsium tentu ga baik juga dong. Cukup saja, jangan terlalu tinggi, jangan kerendahan pula.
Sumber kalsium pun ga harus terpaku pada susu. Hanya mengandalkan susu sebagai sumber kalsium bisa menimbulkan risiko lain, seperti ada orang yang lactose intolerant, produk susu tinggi akan lemak jenuh yang merupakan faktor risiko penyakit jantung, dan tingginya kadar galaktosa hasil pencernaan susu bisa merusak ovarium dan bisa menyebabkan kanker ovarium. Sumber kalsium lain ada banyak, seperti sayuran hijau (sawi, brokoli, bayam) dan kacang-kacangan.
Faktor lain harus diperhitungkan juga dalam upaya mengurangi risiko osteoporosis. Selain cukup mengkonsumsi kalsium, kita juga dianjurkan untuk cukup dapat vitamin D (paparan sinar matahari yang cukup atau lewat suplemen), vitamin K (pada sayuran hijau), dan olahraga beban secara teratur. Seperti jalan kaki, menari, jogging, angkat beban, naik tangga, badminton/tenis, dan hiking. Aktivitas fisik semacam ini memberikan tekanan pada tulang yang dapat mempertahankan kepadatan tulang sepanjang hidup.
10. Golongan darah mempengaruhi kepribadian
Nah, ini juga salah satu mitos yang sering berseliweran di Instagram, Path, dsb. Ceritanya, golongan darah itu mempengaruhi personality seseorang. Sebenarnya gagasan ini ga jauh berbeda dari tipe kepribadian berdasarkan zodiak sih.
Gampang banget untuk tau kalo ini cacat secara logis dan penuh bias. Kepribadian dan karakter manusia itu kan ada banyak. Gimana bisa karakter yang beragam itu dikotak-kotakkan pada hanya 4 tipe golongan? Katanya golongan darah AB itu jenius dan suka menghasilkan ide cemerlang. Tapi gue tau banyak kok orang yang jenius tapi ga bergolongan darah AB.
Selain itu, sifat orang kan dinamis, bisa berubah seiring berjalannya waktu, bisa jadi karena proses pendewasaan atau kejadian tertentu dalam hidup. Katanya gol. Darah O ga bisa tepat waktu. Misalnya ada si Otong bergolongan darah O, suka ngaret. Tapi karena kemudian dia masuk dunia kerja dan nyadar kalo lelet itu bisa mempengaruhi karir, dia pun belajar untuk tepat waktu dan akhirnya bisa jadi pribadi yang disiplin. Nah, apa bisa dibilang Otong ganti golongan darah?
Biasnya adalah kalo ada tipe kepribadian di kartun2 golongan darah yang pas beneran dengan karakter diri atau teman lo, kesesuaian itu diheboh-hebohin trus di-share di timeline socmed, “Ih beneran ya, gue gol. darah B itu emang suka blak-blakan”. Coba aja ada karakter di kartun2 itu yang ga cocok dengan dirinya, udah diabaikan gitu aja, ga diseriusin. Dan itu dilakukan hampir kebanyakan orang yang suka lucu-lucuan baca tipe kepribadian lewat golongan darah. Makanya sistem ini bisa jadi populer.
Mirip kan dengan logika ngaco dan bias pada ramalan bintang/horoskop yang pernah gue bahas di ini.
Tapi agak berbeda dengan ramalan zodiak, tipe kepribadian per golongan darah ini ada bumbunya sedikit. Karena dibagi berdasarkan golongan darah, orang mengira ini lebih akurat karena disangkut-pautkan dengan biologis manusia. Padahal di kelas 8 SMP atau 11 SMA, kita belajar bahwa golongan darah itu ditentukan dari ada atau tidaknya antigen tertentu di permukaan sel darah merah yang nantinya dapat memicu respon imun jika kita menerima darah dari golongan yang ga kompatibel dengan darah kita. Di sisi lain, kepribadian atau sifat manusia ditentukan oleh susunan gen yang ada di setiap sel tubuh manusia. So, mendasarkan golongan darah sebagai penentu kepribadian seseorang itu keliru kan, sis?
Penelitian khusus pun telah dilakukan dan ditemukan bahwa ga ada hubungan antara golongan darah dengan personality seseorang.
Sebagian besar dari kalian pasti sudah pada tau dong kalo petasan memanfaatkan mesiu sebagai bahan peledaknya. Dan salah satu unsur yang dipake untuk membuat mesiu adalah Amonia. Tapi sedikit sekali yang tahu sejarah penggunaan amonia sebagai salah satu unsur penting pembuatan bahan peledak erat sekali kaitannya dengan pengentasan ancaman kelaparan global. Loh, kok bisa, gimana ceritanya?
Di Zenius Blog kali ini, gue akan bercerita tentang sosok ilmuwan jenius yang kontribusinya sangat besar bagi kemanusiaan hingga merasuk ke sel-sel organisme yang hidup di muka bumi kini. Sosok yang berhasil menyelamatkan penghuni bumi dari krisis makanan. Ya, kita pernah mengalami masa, di mana umat manusia berada di ambang bencana kelaparan global, seperti di film-film. Kalau di film-film, sosok penyelamat yang mampu menghindarkan manusia dari ancaman kelaparan dan kepunahan biasanya diagung-agungkan sebagai pahlawan. Tapi berbeda dalam kenyataan, sejarah mencatat, penyelamat manusia dari kelaparan juga seorang yang dituduh sebagai pembunuh massal. Tuduhan kontroversial yang membuat namanya tenggelam dan tidak seharum nama ilmuwan-ilmuwan besar lainnya.
Semangat Revolusi Industri dan Ramalan Malthus
“The power of population is indefinitely greater than the power in the earth to produce subsistence for man.” -Thomas Malthus-
Hayo, inget Thomas Malthus nggak? Mungkin kalian pernah denger kalo pakar demografi dan ekonomi Inggris ini pernah bilang bahwa pertumbuhan populasi dunia itu mengikuti barisan geometri (contoh: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, ....) sementara pertumbuhan produksi makanan mengikuti barisan aritmetika (contoh: 1, 2, 3, 4, 5, 6, ...). Thomas Malthus meramalkan bahwa kalau begini terus, lama-lama bumi tidak akan mampu lagi memberi makan seluruh manusia yang ada. Kita akan dilanda krisis makanan.
Apa yang membuat Maltus membuat ramalan tersebut? Thomas Malthus ini hidup di tahun 1766–1834, di saat Revolusi Industri di Eropa baru saja dimulai. Revolusi Industri dimulai dengan penemuan mesin uap yang kemudian memicu berbagai penemuan atau inovasi teknologi lainnya yang merevolusi kehidupan manusia di segala aspek. Lahirlah mesin-mesin pabrik dan transportasi yang memungkinan masyarakat memproduksi barang dengan lebih cepat dan massal. Pabrik dibuka di mana-mana, lapangan pekerjaan terbuka luas. Perekonomian berkembang pesat. Populasi manusia pun meledak. Nah, ramalan Malthus dicetuskan berdasarkan pengamatannya terhadap perkembangan penduduk di era Revolusi Industri. Oiya, Wisnu pernah nulis lebih dalam tentang statistik populasi dunia. Secara singkat, perkembangan penduduk dalam 2.000 tahun terakhir bisa terangkum pada grafik di bawah ini.
Ternyata ramalan Malthus beneran kejadian. Produksi pangan pada saat itu tidak bisa mengimbangi membludaknya jumlah penduduk. Walaupun tanah-tanah baru di koloni-koloni bangsa Eropa di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia menjanjikan kenaikan produksi pangan, tapi ada hal yang sangat mengganggu para ilmuwan, terutama yang penelitiannya berkutat pada peningkatan produksi pertanian pada waktu itu.
Apa sih sebenarnya masalah di bidang pertanian yang mengganggu produksi pangan pada masa Revolusi Industri hingga membawa ancaman kelaparan global?
Masalahnya terletak pada Nitrogen sebagai salah satu unsur hara vital bagi tanaman.
Tiap tanaman membutuhkan Nitrogen untuk pertumbuhan mereka. Nitrogen ini diperlukan untuk mensintesis asam amino yang nantinya menjadi protein, tulang punggung semua kehidupan di Bumi. Manusia juga memerlukan Protein. Tapi protein yang kita dapatkan berasal dari dua sumber, yaitu hewan yang kita ambil dagingnya dan tumbuhan dari biji atau produk metabolisme sekunder lainnya. Hewan herbivora pun mengambil protein dari tanaman. Dengan demikian, kemampuan tanaman untuk mendapatkan Nitrogen merupakan kunci penting bagi kehidupan di Bumi.
Atmosfer bumi kita ini kaya sekali akan Nitrogen. Bahkan 78% dari udara bumi adalah Nitrogen. Oksigen cuma 21%, karbondioksida 0,04%, sisanya gas-gas lain. Sayangnya, tanaman (ataupun hewan) tidak bisa semudah itu memanfaatkan langsung unsur nitrogen yang ada di udara. Tanaman baru bisa memanfaatkan nitrogen dalam bentuk nitrat (pupuk tanah).
Bagaimana tanaman mendapatkan suplai Nitrogennya dalam bentuk nitrat? Cara paling mudah adalah lewat tanah. Proses dekomposisi dari materi-materi organik, seperti tanaman mati, daun yang jatuh, bahkan bangkai-bangkai hewan jadi sumber untuk perombakan mikroorganisme dekomposer. Salah satu zat yang dirombak dari bangkai-bangkai tersebut adalah protein. Protein mengalami proses deaminasi, di mana gugus aminanya dikeluarkan dari asam amino, dan berlanjut berubah menjadi amonia. Amonia ini masih bersifat racun, belum bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Kerja dilanjutkan oleh bakteri nitrifikasi yang mengubah senyawa amonia beracun tersebut menjadi nitrit atau nitrat, yang diserap kembali oleh tanaman. Cara lainnya, Nitrogen juga dapat ditangkap dari udara oleh mikroorganisme kolega mereka yang bersimbiosis (mutualisme) di akar tanaman suku kacang-kacangan Leguminoceae, semisal Lamtoro atau tumbuhan Palawija.
Pada masa awal pertanian, petani masih menerapkan perladangan berpindah. Ketika para petani tersebut kembali ke lahan awalnya setelah berpindah-pindah selama 5 tahun, lahan awal sudah terisi lagi oleh senyawa-senyawa Nitrogen akibat mikroorganisme. Kedua prinsip di atas dapat digunakan untuk menghidupi populasi manusia yang masih hidup dalam populasi-populasi kecil.
Tapi bagaimana dengan dunia di tahun 1800an, di mana populasi manusia meningkat secara eksponensial? Haruskah petani menunggu sampe 5 tahun lahannya agar kembali subur penuh nitrat melalui kerja "alamiah" mikrooorganisme? Terlebih lagi, semenjak Revolusi Industri, lahan pertanian makin sempit karena sebagian besar lahan dialihfungsikan sebagai lahan pabrik. Banyak petani banting setir jadi buruh pabrik. Lahan pertanian yang ada pun dieksploitasi dengan intensif.
Oleh karena itu, harus ada inovasi di bidang pertanian supaya kita sanggup memberi makan seluruh manusia di Bumi. Gimana tuh inovasinya? Jawabnya ada pada sosok ilmuwan Jerman keturunan Yahudi yang kontribusinya terhadap manusia terus menjadi kontroversi, Fritz Haber.
Kecemerlangan Haber Menjawab Ancaman Kelaparan Global
Fritz Haber lahir dari pengusaha keturunan Yahudi yang bergerak di bidang Farmasi, di Breslau Prusia, salah satu negara dalam Konfederasi Jerman pada Desember 1868. Alih-alih mengikuti jejak ayahnya menjadi pengusaha, Haber memilih jalur sains dan riset sebagai minatnya. Ketertarikan Haber ke sains dipicu oleh pamannya Hermann yang menyediakan ruangan di apartemennya untuk percobaan-percobaan kimia dasar sewaktu kecil. Ia lulus dengan predikat cum laude pada 1891 dari Universitas Friedrich Wilhelms di Berlin dengan spesialisasi di bidang Kimia Organik. Di tahun 1898, Haber pindah ke Karlsruhe dan diangkat menjadi Profesor penuh.
Pencapaian Haber yang paling cemerlang adalah sintesis Amonia dari Nitrogen di udara. Seperti dibahas sebelumnya, dunia terancam kelaparan akibat tanah kehilangan kesuburan karena hilangnya sejumlah besar Nitrogen akibat pertanian yang intensif. Hal yang sangat ironis karena komposisi Nitrogen di udara sebesar 78% tidak bisa digunakan oleh banyak tanaman secara langsung.
Teknik awal yang menggunakan suhu 1000 derajat celsius dalam tekanan normal, dirasa tidak efektif, hanya menghasilkan 0.0044% amonia. Haber memperbaharui teknik fiksasi ini dengan tekanan tinggi 200 atm dengan suhu yang tidak terlalu tinggi 600 derajat celsius, serta katalis kimia Osmium untuk “menangkap” Nitrogen dan “mengikatnya” menjadi senyawa amonia yang nantinya dapat diubah menjadi pupuk. Hasilnya? Efisiensi dari hasil amonia 0.0044% meningkat menjadi 18%. Terobosan ini sangat revolusioner dalam bidang pertanian, seolah-olah Haber dapat membuat “Roti dari udara”.
Ide fiksasinya menjadi industri massal pengadaan pupuk oleh perusahaan BASF (perusahaan kimia terbesar di dunia) yang dimotori saudara iparnya, Bosch. Karena itulah nama fiksasi Nitrogen sekarang dikenal dengan Proses Haber-Bosch. Mungkin kalian pernah dengar istilah ini di pas belajar Kimia kelas XI, bab Kesetimbangan.
Proses Haber-Bosch adalah salah satu pencapaian terbesar pada abad ke-20. Dulunya produksi pupuk sangat bergantung pada deposit amonia di alam yang terbatas. Sejak terobosan ini, pupuk dapat dengan mudah diproduksi dari nitrogen atmosfer yang melimpah. Produksi pangan langsung meningkat. Krisis makanan teratasi. Manusia terhindar dari kepunahan. Kini, hampir 100 juta ton pupuk dari nitogen sintetik diproduksi setiap tahunnya. Bahkan, stok pangan yang memberi makan hampir setengah populasi bumi jaman sekarang diproduksi melalui proses Haber-Bosch.
Untuk terobosan proses fiksasi Amonia dari nitrogen bebas ini, Haber mendapat hadiah Nobel.
Akan tetapi, penghargaan Nobel yang diraih Haber menuai
banyak kontroversi dari kalangan ilmuwan sendiri. Banyak yang mengkritik
Haber dan enggan untuk melabelinya sebagai pahlawan. Karena mereka
menilai, Haber punya sisi lain yang pantas membuat dirinya disebut
sebagai penjahat kemanusiaan. Bersiaplah untuk cerita kelam dari Haber..
Patriotisme dan Sains
Haber hidup pada masa semangat penyatuan Jerman dan nasionalisme yang dimotori oleh Otto Von Biscmarck menderu-deru. Ia sampai berpindah menjadi penganut Kristen, meninggalkan agama keluarga besar dan komunitasnya, Yahudi. Kepindahan Haber ini mungkin erat kaitannya dengan slogan Jerman bersatu yang meniadakan loyalitas dan afiliasi dengan hal-hal lama dan totalitas pengabdian untuk Jerman. Konversi ke Kristen memudahkan Haber melebur ke komunitas Jerman dan berakibat positif ke karirnya.
Patriotisme Jerman semakin bergemuruh ketika Kaiser Wilhelm II melihat bahwa Jerman belum mendapat negara untuk dikolonisasi. Jerman terlambat 200 tahun dalam era penjajahan dan kolonisasi. Negara Eropa lainnya punya Koloni untuk diekspoitasi. Inggris memiliki India, Prancis daerah Indocina dari Vietnam sampai Burma, Spanyol memiliki Amerika Selatan, bahkan Belanda, sebuah negara kecil memiliki Hindia Belanda yang luas, Indonesia sebagai sapi perahan.
Semangat ini menular ke Haber. Kata-kata patriotisme semacam “Perdamaian untuk umat manusia dan perang untuk tanah air” membuatnya menerima posisi tinggi sebagai Direktur di Institut Kaiser Wilhelm untuk Kimia Fisik. Di sini, ia banyak mendedikasikan penemuannya untuk pemerintah Jerman yang sedang sibuk perang dan agresi militer.
Hasil penemuan Haber, Fiksasi Amonia dari udara, menjadi kunci penting kemenangan Jerman di awal perang. Blokade suplai Nitrat dari Chili (produsen terbesar nitrat alami pada masa itu) oleh Angkatan Laut Inggris, tidak serta merta membuat Jerman lumpuh. Metode Haber selain membuat tanah subur dengan pupuk, juga menyediakan suplai Amonia untuk pembuatan mesiu. Sekali lagi Haber melakukan sihirnya, membuat “Mesiu dari udara”. Tapi dunia bersiap untuk sihir yang lebih mengerikan dari Haber.
Senjata Kimia Pertama
Dalam upaya perluasan kekuasaan, Jerman pun
terlibat Perang Dunia I. Seorang jurnalis, Edmond Taylor, pernah bilang
kalo PD I memakan korban dan menghancurkan bangunan lebih sedikit dari
PD II. Namun, dalam banyak hal, PD I meninggalkan bekas luka yang lebih
dalam. Pada Perang Dunia I inilah, senjata kimia pertama lahir.. atas
kontribusi Fritz Haber.
Tanggal 22 April 1915, setahun setelah
perang dimulai. Jerman sedang alot perang menghadapi Prancis. Fritz
Haber berdiri di medan pertempuran Ypres (Belgia) dengan seragam militer
sambil menyalakan cerutu. Ia mengawasi pelepasan 168 ton gas Klorin
(yang ia kembangkan sebagai senjata kimia) dari 6000 kaleng oleh pasukan
Jerman. Ia memperkirakan arah angin akan bertiup ke arah baris
pertahanan pasukan Prancis. Tidak perlu membom dari udara, lepaskan gas
dan angin yang akan membawa awan kuning gas kematian ke kubu Prancis dan
Belgia. Sekitar 10 ribu korban jatuh pada jam-jam pertama, gas memenuhi
parit-parit pertahanan, tidak ada tempat lari semua udara dipenuhi asap
kuning.
Serangan gas beracun pada Perang Dunia I
Penuturan salah satu prajurit Kanada, Sersan Elmer Cotton yang selamat dari Ypres:
“Kepala seperti sakit sekali seperti terbelah, rasa haus yang hebat dan berakibat kematian langsung jika meminum air. Paru-paru seperti ditusuk pisau, batuk-batuk mengeluarkan lendir hijau dari hidung dan mulut. Rasanya seperti mati tenggelam pelan-pelan di darat”
Ribuan tentara Prancis lari ke arah baris pertahanan Jerman, kesakitan, bingung dan buta akibat gas. Kondisi pasukan tersebut membuat ngeri, bahkan pasukan Jerman. Mereka meminta pasukan Prancis yang selamat untuk rebah dan menerima peluru yang ditembakkan dari senapan-senapan Jerman, supaya kematiannya tidak terlalu menyakitkan oleh gas klorin.
Masker Gas, Seragam wajib untuk pertempuran Gas di Perang Dunia I
Sukses besar dari pertempuran kimia pertama dilanjutkan. Ypres lagi-lagi menjadi saksi brutalnya senjata kimia yang dilepaskan dalam skala besar. Pertempuran Ypres kedua memakan korban 70 ribu tentara Prancis dan Inggris, serta 35 ribu tentara Jerman – Austria.
Atas kesuksesan serangan Jerman ini, Haber diberi pangkat Kapten oleh pemerintah Jerman dan diundang pada pesta perayaan di Berlin. Haber berada di puncak dunia, menyelesaikan masalah pangan, kelangkaan mesiu, dan memberi senjata mematikan untuk militer Jerman. Tapi tragedi akan masuk dalam hidup Haber.
Dibuang dan Dikucilkan, Tirai Kekaisaran Haber Ditutup
Sesaat setelah pesta yang diadakan untuk Haber atas suksesnya pertempuran Ypres kedua, Clara Immerwahr, istri Haber mengungkapkan kekecewaannya pada Fritz Haber, suaminya. Clara sangat depresi dengan keterlibatan suaminya menjadi kaki tangan militer Jerman. Clara, yang juga ilmuwan kimia, kecewa bahwa sains yang ia sukai dan tekuni jadi senjata pembunuh massal di tangan Fritz. Semua saran untuk meninggalkan militer dan kembali ke riset untuk kemanusiaan tidak ditanggapi Haber yang menggebu-gebu ingin membuktikan patriotisme Jermannya. Mungkin hal ini disebabkan oleh posisi Haber yang terlahir sebagai Yahudi yang dianggap sebagai kelas kedua di komunitas Jerman saat itu. Clara tidak mampu menahan lagi. Malam tanggal 5 Mei 1915, ia mengambil revolver dari laci Fritz Haber, berjalan sendiri ke taman depan rumah mereka, dan menembak dirinya sendiri. Jenazah Clara ditemukan esok paginya oleh Hans anaknya. Haber yang terkejut, tidak sempat mengurus jenazah Clara karena tidak mendapat ijin cuti dari Kekaisaran Jerman. Front Rusia menunggu untuk digas hari ini. Perang tidak mengenal cuti.
Penggunaan senjata kimia, seolah membuka kotak Pandora yang mengeluarkan beragam iblis dari dalamnya. Inggris dan Prancis yang kehilangan banyak pasukannya di pertempuran Ypres, membalas dengan hal serupa, gas kimia. Senjata kimia yang jadi keunggulan Jerman sekarang dimiliki oleh kedua pihak. Pertempuran yang mengerikan jadi tambah menjadi neraka. Kondisi perang berbalik ketika Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson memutuskan terjun ke perang Eropa di sisi Inggris dan Prancis. Ditambah dinamika revolusi Bolshevik yang terjadi di Rusia serta kalah jauhnya teknologi perang yang dimiliki Kesultanan Ottoman di Turki, maka Jerman menyatakan kekalahan perang pada tahun 1918.
Tuduhan penjahat perang oleh Sekutu membuatnya harus mengungsi ke Swiss dan menyembunyikan diri beberapa bulan. Antara tahun 1920 sampai 1926, Haber, masih berusaha membuat keajaiban. Inflasi hebat yang melanda Jerman paska perang membuat ekonomi hancur lebur. Untuk meringankan bencana ekonomi ini, Haber menawarkan untuk mengekstrak emas dari air lautan ke pemerintah Jerman. Tapi jumlah molekul emas yang hanya 10 bpm (bukan lagi per juta, tapi Bagian Per Miliar) di laut, membuat proses ini tidak efisien.
Naiknya partai Nazi ke puncak pemerintahan akibat kekecewaan warga Jerman karena kekalahan perang membuat posisi Haber menjadi semakin sulit. Darah Yahudi yang ada di dalam dirinya membuat ia sasaran yang tepat untuk kemarahan warga Jerman yang mengagungkan ras Aria, kampanye fasis dari partai Nazi. Di akhir karirnya, ia mencoba menarik hati pemerintahan Nazi dengan membuka arsip-arsip lama di tahun 1920an, senjata kimia yang tidak berbau tapi sangat mematikan, Zyklon B. Tragisnya, gas ini yang kemudian hari di akhir Perang Dunia II, dipakai oleh Nazi untuk membunuh ribuan orang Yahudi di kamp konsentrasi. Banyak dari mereka adalah kerabat dan saudara Fritz Haber.
Dibuang oleh komunitas ilmuwan Eropa karena dianggap sebagai seorang yang sadis, menggunakan senjata kimia pembunuh massal. Kesedihan yang melanda dari meninggalnya Clara dengan cara yang tragis. Diancam untuk dibunuh oleh partai Nazi karena darah Yahudinya. Terbuang dari negara Jerman yang ia bela selama perang. Ia berpindah-pindah tempat dari satu negara ke negara lainnya. Akhirnya, Haber meninggal di Basel Swiss pada 29 Januari 1934 dalam perjalanan tanpa tujuan ke selatan. Dalam wasiatnya ke anaknya Hans, ia meminta dikuburkan di sebelah makam istrinya Clara di Dahlem Berlin.
Sumber :
Originally written by : Prasdianto
Originally published by : zenius.net